Bagi pemilik usaha dagang, laporan keuangan bukan sekadar formalitas administrasi. Dokumen ini menjadi alat utama untuk mengetahui kondisi bisnis secara nyata, mulai dari jumlah barang yang terjual, utang yang belum dibayar, sampai keuntungan yang benar-benar diperoleh dalam satu periode.
Tanpa laporan keuangan yang rapi, kamu akan kesulitan menilai apakah usaha berjalan sehat atau justru mulai merugi.
Artikel ini membahas laporan keuangan usaha dagang secara lengkap, mulai dari pengertian, jenis-jenisnya, cara membuatnya, contoh sederhana, sampai tips praktis agar laporan yang kamu susun tetap akurat dan sesuai aturan yang berlaku.
Pengertian Laporan Dagang
Laporan keuangan usaha dagang adalah catatan tersusun yang menggambarkan posisi keuangan dan hasil usaha dari kegiatan jual beli barang dalam satu periode tertentu, biasanya bulanan atau tahunan.
Usaha dagang sendiri berarti bisnis yang membeli barang dari pemasok lalu menjualnya kembali ke konsumen tanpa mengubah bentuk atau fungsi barang tersebut, seperti toko sembako, distributor pakaian, atau toko elektronik.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), laporan keuangan adalah penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas.
Definisi ini tercantum dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang mengatur penyajian laporan keuangan.
Perlu kamu ketahui, standar ini sudah mengalami pembaruan penomoran dari PSAK 1 menjadi PSAK 201, yang disahkan Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada Desember 2022 dan mulai berlaku efektif sejak 1 Januari 2024.
Aturan ini menetapkan struktur laporan keuangan serta isi minimal yang wajib ada di dalamnya, sehingga laporan yang kamu buat tidak bisa asal-asalan dan harus mengikuti format yang sudah dibakukan agar bisa dibandingkan antar periode maupun antar usaha.
Salah satu peneliti akuntansi, Nuraini, dalam kajiannya yang terbit di Jurnal Action Research Literate tahun 2024, menjelaskan bahwa laporan keuangan bagi pelaku usaha kecil dan menengah berfungsi memberikan informasi yang relevan mengenai penerimaan dan pengeluaran kas suatu usaha selama satu periode tertentu.
Pendapat ini menegaskan bahwa laporan keuangan usaha dagang bukan hanya kebutuhan administratif, tetapi juga alat bantu pengambilan keputusan bagi pemilik usaha, misalnya untuk menentukan apakah stok barang perlu ditambah atau dikurangi.
Bagi usaha dagang berskala mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penyusunan laporan keuangan biasanya mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) yang diterbitkan Dewan Standar Akuntansi Keuangan IAI.
Standar ini dibuat khusus untuk entitas yang memenuhi kriteria dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, sehingga formatnya jauh lebih sederhana dibanding standar akuntansi untuk perusahaan besar.
Jenis Laporan Dagang
Laporan keuangan usaha dagang terdiri dari beberapa jenis yang saling melengkapi. Setiap jenis punya fungsi berbeda, sehingga sebaiknya kamu menyusun semuanya secara berurutan agar gambaran keuangan usaha terlihat utuh.
Kelima jenis laporan ini biasanya disusun setiap akhir periode akuntansi, baik bulanan maupun tahunan, tergantung kebutuhan pelaporan usaha kamu.
1. Laporan Laba Rugi Usaha Dagang
Laporan laba rugi usaha dagang berisi rincian pendapatan dari penjualan barang, harga pokok penjualan, beban operasional, sampai laba atau rugi bersih yang diperoleh dalam satu periode.
Laporan ini penting karena langsung menunjukkan apakah usaha dagang yang kamu jalankan menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian.
Ada dua format yang umum dipakai, yaitu single step yang menjumlahkan seluruh pendapatan lalu mengurangkannya dengan seluruh beban sekaligus, dan multiple step yang memisahkan perhitungan laba kotor terlebih dahulu sebelum menghitung laba bersih.
2. Neraca Usaha Dagang
Neraca usaha dagang, yang kini juga disebut laporan posisi keuangan, menggambarkan kondisi aset, liabilitas atau utang, dan ekuitas atau modal usaha pada akhir periode tertentu.
Perubahan istilah dari “neraca” menjadi “laporan posisi keuangan” mengikuti standar SAK Entitas Privat yang menggantikan SAK ETAP per 1 Januari 2025, meski fungsinya tetap sama, yaitu memastikan total aset selalu seimbang dengan total liabilitas ditambah ekuitas.
Bagian aset biasanya mencakup kas, persediaan barang dagang, dan piutang usaha, sedangkan bagian liabilitas mencakup utang usaha dan utang bank.
3. Laporan Perubahan Modal
Laporan ini menunjukkan perubahan ekuitas pemilik selama satu periode, termasuk penambahan modal, laba yang ditahan, dan pengambilan dana pribadi oleh pemilik usaha.
Laporan perubahan modal baru bisa disusun setelah laporan laba rugi selesai dibuat, karena angka laba bersih dari laporan laba rugi menjadi salah satu komponen dalam perhitungan modal akhir.
4. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas mencatat aliran uang masuk dan keluar dari kegiatan usaha, mulai dari aktivitas operasional, investasi, sampai pendanaan. Laporan ini membantu kamu mengetahui apakah kas usaha cukup untuk membayar kebutuhan operasional sehari-hari.
Menariknya, khusus usaha berskala mikro dan kecil yang menggunakan SAK EMKM, laporan arus kas tidak wajib dibuat, berbeda dengan usaha yang mengikuti standar akuntansi keuangan yang lebih lengkap.
5. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan ini berisi penjelasan tambahan tentang kebijakan akuntansi yang dipakai serta rincian akun tertentu yang tidak tercantum secara detail di laporan lain.
PSAK 201 menetapkan bahwa catatan atas laporan keuangan wajib menyajikan dasar penyusunan laporan serta kebijakan akuntansi penting yang diterapkan, sehingga pembaca laporan bisa memahami angka-angka yang disajikan secara lebih jelas.

Cara Membuat Laporan Dagang
Setelah memahami jenis-jenisnya, langkah berikutnya adalah menyusun format laporan keuangan usaha dagang secara berurutan. Berikut tahapan yang bisa kamu ikuti.
1. Mencatat transaksi ke jurnal umum. Semua transaksi harian, seperti pembelian barang secara kredit, penjualan tunai, pembayaran utang, dan penerimaan piutang, dicatat terlebih dahulu ke dalam jurnal umum sesuai tanggal kejadian.
2. Memindahkan catatan ke buku besar. Setiap transaksi di jurnal umum kemudian diposting ke akun masing-masing di buku besar, misalnya akun kas, persediaan, atau utang usaha, sehingga saldo tiap akun dapat diketahui dengan jelas.
3. Menyusun neraca saldo. Neraca saldo dibuat untuk memastikan total saldo debit dan kredit dari seluruh akun telah seimbang sebelum masuk ke tahap penyusunan laporan keuangan.
4. Membuat jurnal penyesuaian. Tahap ini dilakukan untuk mencatat transaksi atau kondisi yang belum tercatat, seperti penyusutan aset tetap atau penyesuaian persediaan pada akhir periode.
5. Menyusun laporan laba rugi. Setelah neraca saldo disesuaikan, pendapatan dikurangi harga pokok penjualan dan beban operasional untuk memperoleh laba atau rugi bersih.
6. Menyusun laporan perubahan modal. Laba atau rugi bersih dari laporan laba rugi dimasukkan ke laporan ini bersama modal awal dan pengambilan pribadi pemilik usaha.
7. Menyusun neraca atau laporan posisi keuangan. Modal akhir yang diperoleh dari laporan perubahan modal digunakan untuk menyusun neraca, sehingga total aset harus sama dengan total liabilitas ditambah ekuitas.
8. Menyusun laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Tahap ini dilakukan apabila usaha menggunakan standar akuntansi yang mewajibkan penyusunan laporan arus kas serta catatan atas laporan keuangan.
Berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008, kriteria usaha dibagi berdasarkan kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan. Usaha mikro memiliki kekayaan bersih maksimal Rp50 juta di luar tanah dan bangunan, atau penjualan tahunan maksimal Rp300 juta.
Usaha kecil memiliki kekayaan bersih antara Rp50 juta sampai Rp500 juta, atau penjualan tahunan antara Rp300 juta sampai Rp2,5 miliar.
Sementara usaha menengah memiliki kekayaan bersih antara Rp500 juta sampai Rp10 miliar, atau penjualan tahunan antara Rp2,5 miliar sampai Rp50 miliar.
Kriteria ini penting untuk menentukan standar akuntansi mana yang cocok kamu gunakan, apakah SAK EMKM yang sederhana, SAK Entitas Privat, atau PSAK umum bagi usaha dagang berskala besar.
Peneliti Darwin dan Mais, dalam kajian yang dimuat di Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisiplin tahun 2024 tentang penerapan PSAK 1 pada perusahaan yang terdaftar di bursa, menekankan bahwa kepatuhan terhadap standar penyajian laporan keuangan berpengaruh langsung pada kualitas informasi yang diterima pengguna laporan, termasuk kreditur dan calon investor.
Pendapat ini relevan juga bagi usaha dagang skala kecil, karena laporan yang disusun sesuai standar akan lebih mudah dipercaya ketika kamu mengajukan pinjaman modal ke bank atau lembaga keuangan lain.
Contoh Laporan Dagang
Supaya lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana laporan laba rugi dan neraca usaha dagang untuk sebuah toko kelontong dalam satu bulan.
Contoh Laporan Laba Rugi (format single step)
| Keterangan | Jumlah |
|---|---|
| Penjualan bersih | Rp45.000.000 |
| Harga pokok penjualan | Rp28.000.000 |
| Laba kotor | Rp17.000.000 |
| Beban gaji karyawan | Rp4.000.000 |
| Beban sewa toko | Rp2.000.000 |
| Beban listrik dan air | Rp800.000 |
| Total beban operasional | Rp6.800.000 |
| Laba bersih | Rp10.200.000 |
Contoh Neraca atau Laporan Posisi Keuangan
| Aset | Jumlah | Liabilitas dan Ekuitas | Jumlah |
|---|---|---|---|
| Kas | Rp12.000.000 | Utang usaha | Rp8.000.000 |
| Persediaan barang dagang | Rp15.000.000 | Utang bank | Rp5.000.000 |
| Piutang usaha | Rp3.000.000 | Modal pemilik | Rp17.000.000 |
| Total aset | Rp30.000.000 | Total liabilitas dan ekuitas | Rp30.000.000 |
Dari kedua contoh di atas, terlihat bahwa laba bersih sebesar Rp10.200.000 dari laporan laba rugi ikut memengaruhi angka modal pemilik di neraca, setelah dikurangi pengambilan pribadi dan ditambah modal awal.
Contoh ini bisa kamu sesuaikan dengan skala usaha dagang yang kamu jalankan, baik itu toko kecil maupun usaha dagang dengan omzet lebih besar.
Tips Membuat Laporan Dagang
Agar laporan keuangan usaha dagang yang kamu susun tetap rapi dan berguna, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan.
1. Pisahkan uang usaha dan uang pribadi.
Pencampuran keuangan pribadi dengan kas usaha sering membuat laporan keuangan menjadi tidak akurat. SAK EMKM secara tegas mensyaratkan pemisahan ini sebagai salah satu asumsi dasar penyusunan laporan, sehingga kekayaan usaha dan kekayaan pribadi pemilik harus tercatat terpisah.
2. Catat transaksi setiap hari.
Menunda pencatatan transaksi berisiko membuat data hilang atau salah ingat, terutama untuk usaha dagang dengan frekuensi transaksi tinggi. Sebaiknya kamu mencatat setiap pembelian dan penjualan begitu transaksi terjadi, bukan menunggu akhir bulan.
3. Perbarui data persediaan secara rutin.
Persediaan barang dagang termasuk akun yang paling sering berubah, sehingga stok opname perlu dilakukan berkala untuk memastikan catatan buku sesuai dengan kondisi barang di gudang atau toko.
4. Perhatikan kewajiban pajak usaha.
Selain menyusun laporan keuangan, usaha dagang juga perlu memperhatikan aturan perpajakan yang berlaku. Saat ini, ketentuan mengenai Pajak Penghasilan (PPh) final bagi pelaku usaha dengan peredaran bruto tertentu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2026, yang memperbarui ketentuan sebelumnya pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022.
Aturan ini menetapkan tarif PPh final sebesar 0,5 persen dari omzet bagi wajib pajak orang pribadi, wajib pajak badan berbentuk perseroan perorangan yang didirikan oleh satu orang, dan koperasi, selama peredaran bruto usaha tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak.
Laporan keuangan yang rapi akan sangat membantu kamu menghitung omzet secara akurat untuk keperluan pelaporan pajak ini.
5. Gunakan format yang konsisten setiap periode.
Format laporan keuangan usaha dagang yang berubah-ubah akan menyulitkan proses perbandingan antar periode. Usahakan memakai format yang sama setiap bulan atau tahun, baik untuk laporan laba rugi maupun neraca.
6. Simpan bukti transaksi dengan baik.
Nota pembelian, faktur penjualan, dan kuitansi pembayaran sebaiknya disimpan rapi karena menjadi dasar pencatatan sekaligus bukti pendukung apabila suatu saat laporan keuangan perlu diperiksa.
7. Pertimbangkan bantuan software akuntansi.
Bagi usaha dagang dengan volume transaksi cukup besar, penggunaan aplikasi pencatatan keuangan bisa membantu meminimalkan kesalahan hitung dan mempercepat proses penyusunan laporan dibanding pencatatan manual.
8. Lakukan pengecekan ulang sebelum laporan difinalisasi.
Sebelum laporan laba rugi dan neraca dianggap selesai, luangkan waktu untuk mengecek kembali apakah total aset sudah sama dengan total liabilitas ditambah ekuitas.
Kesalahan kecil seperti salah memasukkan angka atau lupa mencatat satu transaksi bisa membuat seluruh laporan menjadi tidak seimbang, sehingga pengecekan ulang ini sebaiknya menjadi kebiasaan rutin setiap kali laporan selesai disusun.

Penutup
Laporan keuangan usaha dagang menjadi dasar penting bagi kamu untuk memahami kondisi bisnis, mengambil keputusan, dan memenuhi kewajiban perpajakan.
Dengan memahami jenis-jenis laporan seperti laporan laba rugi, neraca, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas, serta mengikuti langkah penyusunan yang sesuai standar akuntansi yang berlaku, kamu bisa memiliki catatan keuangan usaha dagang yang akurat dan dapat dipercaya.
Konsistensi dalam mencatat transaksi setiap hari akan sangat menentukan kualitas laporan yang kamu hasilkan di akhir periode.
Referensi
- Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 201 Penyajian Laporan Keuangan. https://web.iaiglobal.or.id/PSAK-Umum/7
- Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Tentang SAK EMKM. https://web.iaiglobal.or.id/SAK-IAI/Tentang%20SAK%20EMKM
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
- Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan (memperbarui Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022). Diulas dalam Ortax, Update Ketentuan Pajak UMKM. https://ortax.org/update-ketentuan-pajak-umkm
- Nuraini, F. N. (2024). Penyusunan Laporan Keuangan Bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Dengan Berbasis pada Peraturan SAK-EMKM. Jurnal Action Research Literate, 8(3), 524.
- Darwin, & Mais, R. G. (2024). Analisis Penerapan PSAK 1 pada Laporan Keuangan Perusahaan Farmasi yang Terdaftar di BEI Tahun 2022. Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisiplin, 8(4), 168–178.
- Bee.id. Contoh Format Laporan Keuangan Sesuai PSAK, Lengkap! https://www.bee.id/blog/laporan-keuangan-sesuai-psak-dan-cara-cepat-membuatnya/
- Bee.id. Contoh Laporan Neraca Perusahaan Dagang & Cara Membuatnya. https://www.bee.id/blog/laporan-neraca-perusahaan-dagang/
- Kledo. SAK EMKM: Standar Akuntansi yang Digunakan Untuk Usaha Kecil Menengah. https://kledo.com/blog/sak-emkm/
- Jurnal.id. Contoh Laporan Keuangan Perusahaan Dagang Secara Lengkap. https://www.jurnal.id/id/blog/2017-contoh-laporan-keuangan-perusahaan-dagang-secara-lengkap/




