Laporan Arus Kas Perusahaan: Jenis dan Cara Membuatnya

Laporan Arus Kas Perusahaan: Jenis dan Cara Membuatnya

Laporan arus kas perusahaan adalah salah satu dokumen keuangan yang sering dianggap remeh, padahal fungsinya cukup besar untuk menjaga kelangsungan usaha. Banyak pemilik PT baru sadar pentingnya laporan ini setelah mengalami kesulitan bayar gaji karyawan atau menagih utang ke pemasok, padahal laporan laba rugi mereka terlihat sehat. Kondisi ini terjadi karena laba di atas kertas berbeda dengan uang tunai yang benar benar tersedia di rekening. Artikel ini membahas pengertian laporan arus kas, jenis jenisnya, cara membuatnya sesuai standar akuntansi, sampai solusi mengurus legalitas dan laporan keuangan PT kamu. Pengertian Laporan Arus Kas Laporan arus kas adalah catatan yang menunjukkan aliran uang tunai masuk dan keluar dari sebuah perusahaan dalam periode tertentu. Laporan ini berbeda dengan laporan laba rugi yang mencatat pendapatan dan beban berdasarkan waktu terjadinya transaksi, bukan waktu uang benar benar diterima atau dibayarkan. Sebuah PT bisa saja mencatat keuntungan besar dari penjualan kredit, tetapi kasnya tetap tipis karena pembayaran dari pelanggan belum masuk. Di sinilah laporan arus kas berperan menunjukkan kondisi kas yang sebenarnya. Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang disusun Ikatan Akuntan Indonesia, tujuan laporan keuangan termasuk laporan arus kas adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang berguna bagi banyak pihak dalam mengambil keputusan ekonomi, sekaligus menjadi bentuk pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Ketentuan ini tertuang dalam PSAK 2 tentang Laporan Arus Kas, yang kini penomorannya berubah menjadi PSAK 207 setelah disahkan ulang oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada 12 Desember 2022 dan berlaku efektif sejak 1 Januari 2024. Standar ini mewajibkan setiap entitas menyusun laporan arus kas yang mengelompokkan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan, lalu menyajikannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan pada setiap periode. Bagi PT, laporan arus kas bukan sekadar alat bantu internal manajemen. Kewajiban penyampaian laporan keuangan tahunan, termasuk arus kas di dalamnya, sudah diatur dalam Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang telah diubah melalui Undang Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja. B erdasarkan Pasal 66 undang undang ini, direksi wajib menyusun laporan tahunan setelah tahun buku berakhir dan menyampaikannya kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) paling lambat enam bulan setelah tahun buku perseroan berakhir, dengan laporan keuangan sebagai salah satu komponen wajib di dalamnya. Aturan ini makin diperkuat lewat regulasi yang baru terbit, yaitu Peraturan Menteri Hukum Nomor 49 Tahun 2025, yang mewajibkan setiap PT, baik berbentuk persekutuan modal maupun perseroan perorangan, menyampaikan laporan keuangannya paling lambat enam bulan setelah tahun buku berakhir melalui sistem administrasi badan hukum, dan kewajiban ini mulai berlaku untuk laporan keuangan tahun 2025. Selain itu, laporan keuangan tahunan juga wajib disampaikan sebagai lampiran Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan, paling lambat empat bulan setelah akhir tahun pajak untuk wajib pajak badan. Dengan adanya kombinasi kewajiban dari sisi hukum perseroan, sisi perpajakan, dan sisi administrasi badan hukum ini, laporan arus kas jadi dokumen yang perlu disusun dengan rapi setiap periode. Kalau kamu masih menyepelekan pembuatannya, risiko yang muncul bisa berupa sanksi administratif, sekaligus menurunkan transparansi dan kepercayaan pemegang saham maupun mitra bisnis. Pendirian PT/CV dengan Harga Termurah se-Indonesia dan Promo Bayar Setelah Jadi, Mulai dengan KLINK LINK DI SINI! Jenis-Jenis Arus Kas dalam Perusahaan Setelah paham pengertian dan fungsi arus kas untuk PT, langkah berikutnya adalah mengenali tiga kelompok aktivitas yang membentuk laporan ini. Klasifikasi ini mengikuti struktur yang ditetapkan PSAK, sehingga laporan arus kas antar perusahaan bisa dibandingkan satu sama lain. 1. Arus kas operasional Mencakup kas yang dihasilkan dan dikeluarkan dari kegiatan usaha utama perusahaan, seperti penerimaan dari penjualan barang atau jasa, pembayaran kepada pemasok, dan pembayaran gaji karyawan. Bagian ini biasanya jadi indikator paling penting karena menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari bisnis intinya tanpa bergantung pada suntikan dana dari luar. Penelitian yang dilakukan terhadap perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa rasio arus kas operasi menjadi salah satu ukuran utama untuk menilai kinerja keuangan perusahaan, karena mencerminkan sejauh mana kegiatan operasional mampu menutup kewajiban jangka pendek tanpa mengandalkan pembiayaan tambahan. 2. Arus kas investasi Berisi transaksi terkait perolehan dan pelepasan aset jangka panjang, misalnya pembelian mesin baru, pembangunan gedung, atau penjualan peralatan lama. Arus kas dari kelompok ini sering bernilai negatif pada perusahaan yang sedang berkembang, karena banyak dana yang dialokasikan untuk memperluas kapasitas usaha. Nilai negatif di bagian ini tidak selalu berarti buruk, justru bisa jadi tanda perusahaan sedang berinvestasi untuk pertumbuhan jangka panjang. 3. Arus kas pendanaan Mencatat transaksi yang berhubungan dengan modal dan utang jangka panjang, seperti penerbitan saham baru, penarikan pinjaman bank, pembayaran dividen, dan pelunasan utang. Bagian ini menggambarkan bagaimana perusahaan membiayai kegiatannya, apakah lebih mengandalkan modal sendiri atau pinjaman dari pihak ketiga. Ketiga jenis arus kas ini saling melengkapi dalam memberi gambaran menyeluruh tentang kondisi keuangan perusahaan. Kemampuan sebuah PT menghasilkan kas dan pendapatan operasi berkaitan erat dengan nilai perusahaan itu sendiri, sehingga tujuan utama pelaporan keuangan adalah menyediakan data yang membantu pengguna laporan mengukur jumlah dan waktu arus kas di masa depan. Kesehatan arus kas juga jadi faktor penentu kelangsungan bisnis. Studi yang dilakukan Jessie Hargen dari U.S. Bank menemukan bahwa sekitar 82 persen kegagalan bisnis disebabkan oleh manajemen arus kas yang buruk, bukan karena bisnisnya tidak menguntungkan. Temuan ini menegaskan bahwa laba di laporan keuangan saja tidak cukup, kas yang tersedia untuk operasional sehari hari sama pentingnya untuk dijaga. Cara Membuat Laporan Arus Kas Sesuai Standar Akuntansi Cara membuat laporan arus kas yang benar mengikuti dua metode yang diakui dalam standar akuntansi, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. PSAK 207 (sebelumnya PSAK 2) menyebutkan bahwa entitas dapat melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan metode langsung, yang mengungkapkan kelompok utama penerimaan kas bruto dan pembayaran kas bruto, atau dengan metode tidak langsung, yang menyesuaikan laba atau rugi bersih dengan mengoreksi pengaruh transaksi nonkas, penangguhan, dan akrual dari penerimaan atau pembayaran kas masa lalu maupun masa depan. Berikut langkah umum menyusun laporan arus kas perusahaan agar sesuai standar akuntansi. Sebagai contoh laporan arus kas perusahaan sederhana, sebuah PT dagang bisa