Holding Company: Pengertian, Jenis, Keuntungannya

Kalau kamu pernah mendengar nama Telkom Indonesia, Pertamina, atau Astra International, kamu sebenarnya sedang melihat contoh nyata dari konsep holding company. Perusahaan-perusahaan besar itu tidak berdiri sendiri. Di balik mereka, ada struktur bisnis yang lebih besar yang menyatukan banyak anak perusahaan di bawah satu atap kendali. Itulah yang disebut holding company. Bagi kamu yang sedang mempertimbangkan untuk mengembangkan bisnis atau sekadar ingin memahami bagaimana konglomerat besar bekerja, artikel ini akan membahas semua hal penting tentang holding company, mulai dari pengertian, jenis, ciri-ciri, tujuan, fungsi, struktur, hingga hubungannya dengan anak perusahaan. Apa Itu Holding Company? Secara sederhana, holding company adalah sebuah perusahaan yang memiliki saham di satu atau lebih perusahaan lain dengan tujuan untuk mengendalikan perusahaan-perusahaan tersebut. Perusahaan induk ini biasanya tidak terlibat langsung dalam kegiatan produksi barang maupun penjualan jasa sehari-hari. Beberapa ahli telah merumuskan pengertian holding company dengan cara yang berbeda-beda. Menurut Brigham dan Houston, holding company adalah suatu korporasi yang memegang saham di perusahaan lain dalam jumlah yang cukup besar sehingga memungkinkannya untuk mengendalikan perusahaan tersebut. Sementara itu, Munir Fuady mendefinisikan holding company sebagai perusahaan yang bertujuan untuk memiliki atau menguasai saham pada satu atau lebih perusahaan lain sekaligus mengendalikan operasionalnya. Dari kedua pendapat itu, ada benang merah yang jelas: inti dari holding company adalah kepemilikan saham dan pengendalian. Bukan produksi, bukan operasional harian, melainkan kendali strategis atas bisnis yang berada di bawahnya. Di Indonesia, dasar hukum pembentukan holding company mengacu pada beberapa regulasi, yaitu Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sebagaimana telah diubah melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, serta Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Selain itu, Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 21 Tahun 2021 juga mengatur syarat dan tata cara pendaftaran pendirian perseroan terbatas, termasuk yang berbentuk holding. Meski begitu, perlu dicatat bahwa regulasi khusus untuk holding company di Indonesia masih belum terlalu rinci. Notaris Ahmad Rifqi Nurilmi dalam Seminar Online Alumni Notariat UI pada Agustus 2024 menegaskan bahwa pemerintah perlu segera membentuk peraturan perundang-undangan yang jelas, lengkap, dan harmonis mengenai holding company, termasuk proses pembentukannya. Hal ini penting mengingat semakin banyaknya holding company yang terbentuk di Indonesia, baik dari sektor swasta maupun BUMN. Pendirian PT/CV dengan Harga Termurah se-Indonesia dan Promo Bayar Setelah Jadi, Mulai dengan KLIK LINK DI SINI! Jenis-Jenis Holding Company Tidak semua holding company bekerja dengan cara yang sama. Ada beberapa jenis holding company yang perlu kamu ketahui, tergantung pada tujuan dan cara pengelolaannya. 1. Pure Holding Company Jenis ini adalah holding company yang murni berfungsi sebagai pemegang saham. Ia tidak menjalankan kegiatan bisnis operasional sama sekali. Seluruh pendapatannya berasal dari dividen, bunga, royalti, dan keuntungan modal yang mengalir dari anak perusahaannya. Kalau kamu membayangkan sebuah kantor pusat yang hanya berisi para eksekutif dan pemegang kebijakan tanpa ada lantai produksi, itulah gambaran dari pure holding company. 2. Operating Holding Company (Mixed Holding) Berbeda dengan jenis pertama, operating holding company tidak hanya memegang saham, tetapi juga terlibat aktif dalam kegiatan operasional. Jenis ini lebih umum ditemukan di perusahaan yang masih dalam tahap berkembang dan belum sepenuhnya memisahkan fungsi strategis dari fungsi operasional. 3. Investment Holding Company Jenis ini memiliki saham di anak perusahaan, tetapi hanya dalam kapasitas investasi semata. Ia tidak ikut campur dalam kegiatan harian anak perusahaan. Fokusnya adalah memaksimalkan keuntungan dari portofolio investasi yang dimilikinya. Contoh paling aktual di Indonesia adalah Danantara, yang berdasarkan UU RI Nomor 1 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, berperan sebagai holding investasi yang mengelola saham BUMN strategis seperti PT Bank Mandiri, PT PLN, PT Pertamina, dan PT Telkom Indonesia. 4. Konglomerat (Conglomerate Holding) Holding jenis ini memiliki anak perusahaan yang bergerak di berbagai sektor industri yang tidak saling berkaitan. Misalnya, sebuah holding bisa sekaligus memiliki anak perusahaan di bidang properti, teknologi, agribisnis, dan keuangan. Contoh yang paling dikenal di Indonesia adalah Sinar Mas Group. 5. Pure Play Holding Kebalikan dari konglomerat, pure play holding hanya berfokus pada satu sektor industri tertentu. Seluruh anak perusahaannya bergerak di bidang yang sama. Contohnya adalah holding pertambangan BUMN, PT Mining Industry Indonesia (MIND ID), yang menaungi PT ANTAM, PT Bukit Asam, PT Freeport Indonesia, PT INALUM, dan PT Timah. Ciri-Ciri Holding Company Supaya kamu bisa membedakan holding company dari perusahaan biasa, ada beberapa ciri khas yang perlu kamu perhatikan. Pertama, holding company biasanya berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau BUMN Persero. Ini sesuai dengan ketentuan hukum korporat di Indonesia yang mengatur bahwa badan hukum yang dapat memiliki saham di perusahaan lain harus berbentuk PT atau setara. Kedua, holding company tidak menghasilkan pendapatan dari menjual produk atau jasa secara langsung. Sumber penghasilannya berasal dari dividen, bunga pinjaman antarperusahaan, royalti atas penggunaan aset intelektual, serta keuntungan modal dari kepemilikan saham. Ketiga, holding company memiliki struktur organisasi yang berlapis. Karena perlu mengawasi dan mengoordinasikan banyak anak perusahaan yang bisa beroperasi di sektor yang berbeda, struktur manajemennya cenderung lebih kompleks dibanding perusahaan biasa. Keempat, holding company tidak terlibat langsung dalam kegiatan operasional harian. Ia berfokus pada perencanaan strategis jangka panjang, koordinasi antar anak perusahaan, pengawasan kinerja, dan manajemen risiko pada tingkat grup. Kelima, holding company memegang saham mayoritas atau saham pengendali di anak perusahaannya. Kepemilikan ini bisa diperoleh secara langsung maupun tidak langsung melalui rantai kepemilikan yang bertingkat. Tujuan Pembentukan Holding Company Mengapa sebuah bisnis perlu membentuk holding company? Jawabannya bergantung pada kebutuhan dan skala bisnis yang dimiliki, tetapi secara umum ada beberapa tujuan utama yang mendorong pembentukan holding company. a. Efisiensi pengelolaan bisnis yang beragam. Ketika seorang pemilik bisnis sudah memiliki banyak perusahaan di berbagai sektor, mengelola semuanya secara terpisah bisa sangat rumit. Dengan membentuk holding company, seluruh fungsi strategis seperti keuangan, sumber daya manusia, dan teknologi informasi dapat dikonsolidasikan di tingkat korporat, sehingga mengurangi duplikasi biaya dan meningkatkan efisiensi. b. Perlindungan aset. Salah satu alasan yang paling sering disebut oleh para pelaku bisnis adalah perlindungan aset. Dengan memisahkan aset ke berbagai entitas di bawah satu holding, risiko kerugian di satu anak perusahaan tidak serta-merta menjalar ke perusahaan lain atau ke holding itu sendiri. c. Optimalisasi pajak. Holding company memungkinkan penataan struktur