Cara Perpanjangan Izin Sertifikat Halal untuk Pemula

Cara Perpanjangan Izin Sertifikat Halal untuk Pemula

Memiliki sertifikat halal bukan hanya soal memenuhi kewajiban hukum, tetapi juga soal menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk yang kamu jual.  Bagi pelaku usaha di Indonesia, memahami aturan perpanjangan izin sertifikat halal adalah langkah penting agar bisnis tetap berjalan tanpa hambatan.  Artikel ini membahas pengertian, masa berlaku, kapan harus diperpanjang, syarat dokumen, prosedur, hingga biaya dan estimasi waktunya. Pengertian dan Masa Berlaku Sertifikat Halal Sertifikat halal adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama Republik Indonesia. Sertifikat ini menjamin bahwa suatu produk telah memenuhi standar kehalalan sesuai syariat Islam.  Dokumen ini menjadi dasar bagi pelaku usaha untuk mencantumkan label halal pada kemasan produk mereka. Dasar hukum sertifikasi halal di Indonesia bersumber dari Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH). Berdasarkan regulasi ini, produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal.  Produk yang dimaksud mencakup barang dan/atau jasa terkait makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dipakai atau dimanfaatkan oleh masyarakat. Terkait masa berlaku, terdapat dua ketentuan yang perlu kamu pahami karena ada perbedaan antara aturan lama dan perkembangan regulasi terbaru. a. Ketentuan berdasarkan UU JPH (aturan berlaku umum): Berdasarkan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, sertifikat halal yang diterbitkan oleh BPJPH berlaku selama 4 tahun. Artinya, pelaku usaha memiliki kewajiban melakukan perpanjangan sertifikat secara periodik. b. Perkembangan regulasi terbaru: Masa berlaku sertifikasi halal saat ini adalah seumur hidup, selama tidak terdapat perubahan pada komposisi bahan dan proses produksi (PPH). Aturan ini ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Cipta Kerja dan regulasi BPJPH, menggantikan ketentuan lama yang mewajibkan perpanjangan setiap 4 tahun sekali. Meski begitu, penting untuk dipahami bahwa status “seumur hidup” ini bukan berarti bebas dari kewajiban apapun. Status “seumur hidup” bersifat bersyarat.  Sertifikat bisa dicabut atau dinyatakan tidak berlaku jika terjadi perubahan pada komposisi bahan (penambahan atau pengurangan bahan baku, bahan tambahan, atau bahan penolong) maupun perubahan proses produksi yang mempengaruhi titik kritis kehalalan, tanpa adanya pelaporan terlebih dahulu. Kapan Perpanjangan Sertifikat Halal Harus Dilakukan? Ada beberapa kondisi yang mengharuskan kamu mengajukan perpanjangan atau pembaruan sertifikat halal: 1. Habisnya masa berlaku sertifikat Bagi pelaku usaha yang memiliki sertifikat halal berdasarkan aturan lama (masa berlaku 4 tahun), kamu wajib mengajukan perpanjangan sebelum masa berlaku habis. Perpanjangan wajib kamu ajukan paling lambat 3 bulan sebelum masa berlaku sertifikat berakhir, untuk menjaga kesinambungan status halal produk. 2. Perubahan pada komposisi bahan atau proses produksi Jika kamu menambah bahan baru, mengganti bahan baku dari pemasok berbeda, atau mengubah proses produksi yang berdampak pada aspek kehalalan, kamu wajib melaporkan perubahan tersebut dan mengajukan pembaruan data melalui sistem SIHALAL. Kamu tidak perlu membuat sertifikat baru dari awal. Cukup ajukan pembaruan data atau pengembangan produk melalui akun SIHALAL dan laporkan penambahan bahan baru tersebut untuk diperiksa oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). 3. Penambahan varian atau jenis produk baru.  Jika bisnis kamu berkembang dan kamu menambah produk baru di luar yang sudah tercantum dalam sertifikat sebelumnya, produk baru tersebut perlu disertifikasi secara terpisah atau diajukan sebagai penambahan varian. Kewajiban perpanjangan ini juga berlaku untuk sertifikat yang diperoleh melalui jalur self-declare.  Sertifikat yang didapatkan melalui jalur self-declare juga memiliki masa berlaku selama 4 tahun dan wajib diperpanjang, sehingga pelaku UMK yang menggunakan jalur ini juga harus mempersiapkan proses perpanjangan untuk menjaga kepatuhan. Penting juga diketahui bahwa mulai 18 Oktober 2024, kewajiban bersertifikat halal secara resmi diberlakukan bagi produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.  Kewajiban ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal, yang menggantikan PP Nomor 39 Tahun 2021.  Adapun bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK), masih diberikan waktu untuk mengurus perizinan dan sertifikat halal selambat-lambatnya sampai dengan 17 Oktober 2026. Syarat dan Dokumen Perpanjangan Sertifikat Halal Sebelum mengajukan perpanjangan, kamu perlu menyiapkan sejumlah dokumen yang diperlukan dalam proses ini.  Secara umum, dokumen yang harus kamu siapkan meliputi: 1. Nomor Induk Berusaha (NIB) NIB adalah dokumen identitas usaha yang wajib dimiliki. Jika tidak memiliki NIB, dapat dibuktikan dengan surat izin lainnya seperti NPWP, SIUP, IUMK, IUI, atau NKV. 2. Data pelaku usaha yang masih berlaku Informasi tentang nama usaha, alamat, skala usaha, dan data penanggung jawab perlu diperbarui jika ada perubahan sejak pendaftaran pertama kali. 3. Data komposisi produk terbaru Dokumen yang dibutuhkan meliputi data pelaku usaha, komposisi produk terbaru, alur proses produksi, dan dokumen pendukung lainnya. LPH akan menilai apakah perlu dilakukan audit ulang. Jika ya, mereka akan menjadwalkan kunjungan ke lokasi usaha. 4. Dokumen Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) SJPH adalah suatu sistem manajemen yang disusun, diterapkan, dan dipelihara oleh perusahaan pemegang sertifikat halal untuk menjaga kesinambungan proses produksi halal. Sistem jaminan produk halal ditetapkan oleh Kepala BPJPH. 5. Dokumen proses pengolahan produk Dokumen proses pengolahan produk yang diserahkan ke BPJPH harus memuat keterangan mengenai cara pembelian, penerimaan, penyimpanan bahan yang digunakan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan produk jadi, dan distribusi. 6. Data Penyelia Halal Penyelia halal melampirkan salinan KTP, daftar riwayat hidup, salinan sertifikat penyelia halal, dan salinan keputusan penetapan penyelia halal. Pastikan seluruh dokumen dalam kondisi lengkap dan sesuai format sebelum mengajukan permohonan. Apabila ada dokumen yang tidak lengkap, BPJPH memberikan waktu selama 5 hari bagi pelaku usaha untuk melengkapinya.  Setelah melewati masa tersebut, pengajuan akan sepenuhnya ditolak. Prosedur dan Cara Perpanjangan Sertifikat Halal Proses perpanjangan sertifikat halal dilakukan secara online melalui sistem SIHALAL milik BPJPH yang dapat diakses di ptsp.halal.go.id.  Berikut alur yang perlu kamu ikuti: Langkah 1: Login ke akun SIHALAL  Gunakan akun yang sama saat pengajuan pertama kali. Jika lupa akses, kamu bisa menghubungi BPJPH atau admin sistem. Langkah 2: Pilih menu perpanjangan  Pilih menu pengajuan baru, lalu pilih “Perpanjangan Sertifikat Halal” dan lengkapi formulir yang tersedia. Langkah 3: Unggah dokumen persyaratan  Lengkapi semua dokumen yang diperlukan sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya, kemudian unggah melalui sistem. Langkah 4: Verifikasi dokumen oleh BPJPH  BPJPH melakukan verifikasi terhadap dokumen yang diajukan oleh pelaku usaha untuk memastikan kelengkapan dan kebenarannya. Langkah 5: Pembayaran biaya layanan  LPH menghitung, menetapkan, dan