7 Kesalahan Umum Saat Pendaftaran Merek Dagang

DJKI (Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual) menyadari betapa pentingnya merek dagang bagi pelaku usaha dan telah menyederhanakan proses pendaftaran identitas bisnis yang kini bisa dilakukan secara online. Namun, cukup banyak pelaku usaha yang masih melakukan kesalahan saat mendaftarkan merek. Kesalahan pendaftaran mengakibatkan banyak permohonan pendaftaran merek yang ditolak atau tidak terdaftar secara resmi di DJKI. Tentu saja jika kamu melakukan kesalahan saat pendaftaran merek, maka bisnismu harus melakukan perombakan dalam branding dari nol. Untuk membantu menghindari kesalahan dalam pendaftaran, di bawah ini adalah kesalahan yang biasanya dilakukan pelaku usaha saat mendaftarkan merek dagang. Pengertian Singkat Merek Dagang Merek dagang menjadi identitas yang melekat pada produk atau jasa milik pelaku usaha. Identitas merek pada bisnis memungkinkan konsumen untuk mengenali dan membedakan produk antara satu dengan yang lain. Menurut UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, merek dagang adalah tanda yang digunakan untuk membedakan barang atau jasa yang diperdagangkan oleh individu atau badan hukum dari produk sejenis lainnya. Merek dagang dapat dikelompokkan dalam berbagai bentuk, seperti gambar, logo, nama, kata-kata, huruf, angka, warna, serta kombinasi elemen tersebut. Tidak hanya itu, merek juga bisa berbentuk suara, hologram, atau dalam format dua atau tiga dimensi. Fungsi utama dari merek tentu saja untuk memberikan identitas dan jaminan kualitas pada barang atau jasa yang dihasilkan pelaku usaha dalam kegiatan perdagangan. Perpanjangan Merek Perpanjangan jangka waktu perlindungan merek sangat penting bagi kamu yang telah memperoleh sertifikat merek. Perlindungan merek dapat kamu perpanjang untuk periode yang sama, yaitu selama 10 tahun. Proses perpanjangan harus dilakukan dalam waktu 6 bulan sebelum masa perlindungan berakhir. Jika batas waktu telah terlewat, kamu masih bisa mengajukan permohonan perpanjangan dengan batas waktu maksimum 6 bulan setelah berakhirnya masa perlindungan. Namun, pengajuan permohonan yang telah terlewat tentu akan dikenakan biaya tambahan dan denda keterlambatan. Karena itu, penting bagi kamu untuk memperhatikan batas waktu perlindungan agar hak atas merekmu tetap terlindungi dan tidak perlu membayar biaya tambahan serta denda. Syarat Pendaftaran Merek Dagang Untuk mendaftarkan merek dagang di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Beberapa syarat tersebut di antaranya adalah: Etiket atau label merek merupakan identitas visual dari merek yang akan didaftarkan. Pemohon harus menandatangani dokumen pendaftaran. Dokumen di atas diperlukan khusus untuk pemohon dari Usaha Mikro dan Usaha Kecil (UMK). Pemohon UMK juga perlu untuk menyertakan surat pernyataan yang telah dibubuhi materai. Kesalahan Umum Pendaftaran Merek Dagang Kesalahan pendaftaran merek dagang bisa berakibat penolakan permohonan dan bahkan memaksa kamu untuk melakukan perombakan dalam urusan branding. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang sering terjadi saat mendaftar merek dagang: 1. Tidak Melakukan Penelusuran Merek Banyak pelaku usaha yang abai terhadap pentingnya penelusuran merek sebelum mengajukan pendaftaran. Padahal, penelusuran merek merupakan kunci untuk memastikan identitas bisnis yang akan didaftarkan tidak sama dengan merek lain yang sudah terdaftar di DJKI. Jika terdapat kesamaan, maka permohonan pendaftaran dapat ditolak. 2. Menunda Pendaftaran Merek Sering kali pelaku usaha terus menunda-nunda mendaftarkan merek dagangnya. Di Indonesia, sistem pendaftaran merek berlandaskan prinsip “first to file.” Prinsip “first to file” memiliki arti siapa yang lebih dulu mendaftar, dialah yang akan mendapatkan perlindungan hukum atas mereknya. 3. Salah Mengisi Data Permohonan Kesalahan dalam pengisian data permohonan seperti nama, alamat, atau email juga sering terjadi. Contoh, jika alamat email yang dimasukkan salah, maka informasi penting akan hilang dan berakibat fatal pada proses pendaftaran. 4. Salah Memilih Layanan Merek Saat Pesan Kode Billing Pelaku usaha tentu harus memilih dengan tepat jenis layanan saat memesan kode billing. Jika memilih cara yang salah, maka kamu akan membayar biaya yang tidak sesuai dengan jenis permohonan. 5. Pendaftaran Kelas Tidak Sesuai dengan Model Bisnis Jangan lupa untuk mendaftarkan merek sesuai dengan kelas produk atau layanan yang ditawarkan. Sebagai contoh, jika kamu menjual kopi, pastikan untuk mendaftarkannya di kelas yang relevan seperti produk makanan atau minuman. 6. Tidak Mengirim Dokumen yang Diperlukan Setiap permohonan pendaftaran memiliki dokumen persyaratan yang berbeda. Kamu harus memastikan semua dokumen yang diperlukan telah disiapkan dan dikirimkan ke DJKI. 7. Tidak Melakukan Pemantauan Akun Secara Berkala Setelah mengajukan permohonan, penting untuk terus memantau status akun secara berkala. Proses pendaftaran melalui DJKI melibatkan beberapa tahapan dan kamu perlu sigap menanggapi surat-surat dari DJKI dalam waktu yang ditentukan. Kesimpulan Merek dagang menjadi aset penting pada bisnis yang dapat memberikan perlindungan secara legal. Meskipun proses pendaftaran merek bisa dilakukan secara online, namun masih banyak pelaku usaha yang melakukan kesalahan saat mendaftarkan merek mereka. Dengan mengerti kesalahan-kesalahan umum dalam mendaftarkan merek, kamu bisa meningkatkan peluang identitas bisnismu diterima pendaftaran dan menghindari masalah di masa depan.
Subjek dan Objek Pajak yang Tidak Dikenakan PPh

Di antara berbagai jenis pungutan wajib, PPh (pajak penghasilan) merupakan pajak dengan posisi teratas yang dikelola langsung oleh pemerintah. Regulasi terkait pajak penghasilan telah mengalami beragam perbaikan lewat berbagai amandemen undang-undang. Penyempurnaan regulasi ini mencerminkan upaya pemerintah dalam mengoptimalkan sistem perpajakan sesuai dengan perubahan perekonomian yang terjadi di negara Indonesia. Pajak penghasilan juga memiliki karakteristik dan ketentuan spesifik, di mana klasifikasinya dibedakan berdasarkan subjek dan objek pajak yang dikenakan. Subjek dan Objek Pajak Dalam konteks perpajakan Indonesia, definisi subjek pajak penghasilan mencakup semua pihak yang memiliki peluang untuk memperoleh penghasilan kena pajak. Kewajiban pembayaran PPh akan muncul ketika subjek pajak menerima penghasilan yang memenuhi kriteria perpajakan sesuai regulasi. Berdasarkan ketentuan hukum perpajakan Indonesia, terdapat empat kelompok utama yang dikategorikan sebagai Subjek Pajak: Sementara itu, lingkup pengertian objek pajak penghasilan meliputi setiap penambahan kemampuan ekonomis para wajib pajak, baik bersumber dari aktivitas domestik maupun internasional. Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam UU No 17 Tahun 2000 Pasal 4 ayat (1), beberapa kategori penghasilan yang termasuk objek pajak meliputi: Jenis PPh di Indonesia Di Indonesia, pajak penghasilan (PPh) memiliki beberapa pengelompokan yang berbeda. Masing-masing pengelompokan ini dirancang untuk memudahkan pengaturan perpajakan dari berbagai sumber pendapatan. Berikut ini merupakan daftar pengelompokan pajak penghasilan (PPh) yang tersedia di Indonesia Fokus pada PPh Pasal 21 mencakup semua bentuk penghasilan yang diterima oleh perorangan dari aktivitas profesional. Penghasilan yang mendapat PPh Pasal 21 termasuk gaji pokok, bonus, tunjangan, dan berbagai bentuk kompensasi lainnya yang diterima oleh wajib pajak dalam negeri atas jasa atau pekerjaan. Aturan PPh Pasal 22 secara khusus mengatur perpajakan untuk aktivitas perdagangan, terutama yang melibatkan transaksi ekspor-impor. Berdasarkan PMK No. 92/PMK.03/2019, pajak ini berlaku untuk seluruh badan usaha milik negara maupun swasta yang terlibat dalam perdagangan internasional. Pasal ini mengatur pajak yang dikenakan atas penghasilan dari investasi modal, pemberian jasa, serta hadiah dan penghargaan. Ini merupakan kategori tersendiri yang tidak tercakup di dalam ketentuan PPh Pasal 21. Pajak Ini merupakan kategori khusus dalam sistem perpajakan Indonesia, di mana pajak dipungut sekali dan bersifat final. PPh Pasal 4 ayat (2) juga memiliki arti bahwa setelah dipotong, pajak ini tidak dapat dikreditkan lagi terhadap pajak penghasilan yang terutang. PPh yang Dikecualikan dari Subjek Pajak Berdasarkan ketentuan perpajakan Indonesia, terdapat beberapa pihak dalam negeri maupun luar negeri yang dikecualikan sebagai subjek pajak. Pengecualian pertama diberikan kepada kantor perwakilan negara asing yang beroperasi di Indonesia. Kelompok kedua yang mendapat pengecualian adalah para pejabat diplomatik dan konsulat asing, termasuk staf yang membantu mereka. Namun, pengecualian ini berlaku dengan beberapa persyaratan, antara lain: Kategori ketiga meliputi organisasi internasional, dengan syarat yang harus dipenuhi Pengecualian juga berlaku bagi pejabat yang mewakili organisasi internasional, namun bukan WNI dan tidak melakukan aktivitas atau kegiatan yang mendapat penghasilan dari Indonesia. PPh yang Dikecualikan dari Objek Pajak Menurut UU Pajak Penghasilan, beberapa jenis penghasilan berikut tidak dikenakan pajak penghasilan: Penutup Sistem pajak penghasilan di Indonesia telah dikembangkan secara menyeluruh demi memfasilitasi berbagai jenis subjek dan objek pajak. Lewat bermacam pengaturan dan pengelompokan, pemerintah berupaya menciptakan sistem perpajakan PPh yang adil dan efisien bagi seluruh wajib pajak. Lewat pengelompokan yang jelas antara PPh Pasal 21, 22, 23, dan Pasal 4 ayat (2), wajib pajak menjadi lebih nyaman untuk memahami kewajiban perpajakan. Karena itu, sistem PPh di Indonesia tidak hanya berfokus pada pengumpulan pendapatan negara saja, namun juga memperhatikan beragam unsur kehidupan di dalam masyarakat dan pembangunan nasional.
Mengenal Wajib Pajak Non Efektif dan Kriterianya

NPWP Non Efektif (NE) merupakan status khusus yang diberikan kepada wajib pajak yang memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku. Status ini memiliki dampak signifikan terhadap kewajiban pelaporan pajak seseorang. Setiap individu yang memiliki NPWP pada dasarnya memiliki tanggung jawab untuk melaporkan dan membayar pajak secara rutin. NPWP sendiri berfungsi sebagai identitas unik yang memudahkan administrasi perpajakan dan menjadi penanda resmi dalam melaksanakan hak serta kewajiban perpajakan wajib pajak tersebut. Namun, seorang wajib pajak mungkin menghadapi situasi di mana mereka tidak dapat memenuhi kewajiban pelaporan SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan). Dengan kondisi tersebut maka wajib pajak dapat mengajukan status wajib pajak Non Efektif (NE). Lalu, bagaimana kriteria untuk mendapatkan status wajib pajak NE? Penjelasan Singkat NPWP Non Efektif Di dalam sistem perpajakan, dikenal istilah Wajib Pajak Non Efektif (WP NE). Status ini diberikan kepada para Wajib Pajak yang untuk jangka waktu tertentu tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya. Kewajiban tersebut meliputi dua hal utama, yaitu pembayaran pajak dan pelaporan pajak melalui Surat Pemberitahuan (SPT), baik yang bersifat bulanan (SPT Masa) maupun tahunan (SPT Tahunan). Penting untuk dicatat bahwa status non-efektif ini bersifat tidak permanen dan dapat diubah kembali menjadi Wajib Pajak aktif sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ketika seorang Wajib Pajak menyandang status non-efektif, mereka mendapatkan pengecualian dari pengawasan administratif yang rutin dilakukan oleh otoritas pajak. Konsekuensinya, pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dengan status non-efektif dibebaskan dari kewajiban pelaporan SPT tahunan, karena kewajiban perpajakan mereka dianggap telah berakhir untuk sementara waktu. Dasar Hukum Landasan legal yang menjadi acuan dalam NPWP Non Efektif mengacu pada ketentuan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak melalui peraturan nomor PER-20/PJ/2013. Peraturan ini mengatur secara lengkap berbagai prosedur administratif perpajakan yang mencakup beberapa aspek penting. Pertama, peraturan ini menjelaskan mekanisme pendaftaran dan proses mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Kedua, mengatur tata cara pelaporan usaha serta proses pengukuhan status sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP). Ketiga, memberikan panduan mengenai prosedur penghapusan NPWP dan pencabutan status PKP. Terakhir, peraturan ini juga mengatur ketentuan terkait perubahan data wajib pajak dan prosedur pemindahan wajib pajak. Kriteria NPWP Non Efektif Dalam sistem perpajakan Indonesia, seorang Wajib Pajak dapat ditetapkan sebagai Wajib Pajak Non Efektif ketika memenuhi beberapa kondisi tertentu. Penetapan status ini dilakukan setelah melakukan evaluasi terhadap kepatuhan dan aktivitas perpajakan Wajib Pajak tersebut. Kriteria tersebut adalah: Kondisi pertama yang dapat menyebabkan penetapan status WP NE adalah ketidakaktifan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan selama tiga tahun berturut-turut. Ketidakaktifan ini mencakup tidak adanya aktivitas pembayaran pajak maupun tidak menyampaikan laporan pajak berkala (SPT Masa) dan laporan tahunan (SPT Tahunan). Status WP NE juga dapat diberikan ketika otoritas pajak mengalami kesulitan dalam melacak keberadaan Wajib Pajak karena alamat yang tidak dapat ditemukan atau tidak diketahui lagi. Dalam kasus Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia, status WP NE dapat ditetapkan selama belum ada pemberitahuan resmi dari ahli waris atau pengajuan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Untuk Wajib Pajak yang berperan sebagai bendahara, status non-efektif dapat diberikan jika tidak lagi melaksanakan fungsi pembayaran. Sementara itu, bagi Wajib Pajak berbentuk badan usaha, status WP NE dapat ditetapkan ketika badan tersebut telah berhenti beroperasi namun belum memiliki dokumen legal berupa Akta Pembubaran atau belum menyelesaikan proses likuidasi. Kriteria terakhir berlaku untuk Wajib Pajak orang pribadi yang menetap atau bekerja di luar negeri. Mereka dapat ditetapkan sebagai WP NE jika durasi keberadaan mereka di luar negeri melebihi 183 hari dalam rentang waktu 12 bulan. Kesimpulan Ketika Wajib Pajak telah memperoleh status Non Efektif, terdapat beberapa konsekuensi yang harus dipahami. Pertama, mereka dibebaskan dari kewajiban melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT). Meskipun tidak menyampaikan SPT, Wajib Pajak dengan status ini tidak akan menerima Surat Teguran sejak tanggal penetapannya sebagai Wajib Pajak Non-Efektif. Otoritas pajak juga tidak akan menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) yang berkaitan dengan sanksi administratif terhitung sejak status Non-Efektif tersebut ditetapkan. Perlakuan khusus ini mencerminkan kebijakan perpajakan yang mempertimbangkan kondisi dari Wajib Pajak.
Manfaat dari Perjanjian Joint Venture

Di dunia bisnis, kolaborasi lewat joint venture menjadi sebuah langkah untuk memperluas jangkauan pasar. Melalui joint venture, perusahaan dapat menggabungkan sumber daya dan keahlian guna mencapai tujuan bisnis yang lebih besar. Para pihak yang terlibat dalam perjanjian joint venture perlu memiliki pemahaman yang mendalam agar semua pihak menyadari hak dan kewajiban masing-masing. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan praktisi hukum yang berpengalaman dalam proses penyusunan perjanjian tersebut. Apa Itu Joint Venture? Perjanjian joint venture merupakan suatu kesepakatan antara dua atau lebih pihak untuk berkolaborasi dalam suatu proyek dengan tujuan tertentu. Konsep ini sering disebut sebagai usaha patungan, yang melibatkan penggabungan sumber daya seperti modal, aset, atau keahlian tertentu. Para pihak yang terlibat dalam perjanjian ini akan membagi risiko sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati. Dasar hukum dari perjanjian ini diatur dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dengan adanya landasan hukum yang jelas, perjanjian ini memberikan kerangka hukum yang kuat mengenai hubungan antar pihak yang terlibat. Dasar Hukum Dasar hukum untuk joint venture di Indonesia diatur oleh sejumlah peraturan dan undang-undang yang mencakup: Regulasi di atas memberikan kerangka hukum bagi pelaksanaan kerja sama ini, termasuk syarat-syarat dan ketentuan yang harus dipatuhi oleh para pihak yang terlibat dalam usaha ini. Komponen Utama Joint Venture Untuk bergabung dalam joint venture, ada beberapa komponen penting yang perlu diperhatikan dan disiapkan dalam perjanjian. Berikut adalah penjelasan mengenai komponen-komponen tersebut: Perjanjian harus mencakup informasi lengkap tentang semua pihak yang terlibat, termasuk nama lengkap, alamat, dan nomor identitas. Hal ini penting untuk memastikan kejelasan dan legalitas hubungan antara pihak-pihak yang berpartisipasi. Perjanjian harus mencantumkan hak dan kewajiban masing-masing pihak secara jelas. Misalnya, hak untuk menerima keuntungan sesuai dengan persentase kepemilikan saham dan kewajiban untuk menyetor modal. Rencana mengenai sumber pembiayaan usaha juga perlu ditentukan. Ini bisa berupa setoran modal awal dari para pihak atau sumber pembiayaan lainnya. Perjanjian harus menjelaskan secara eksplisit persentase kepemilikan saham masing-masing pihak dalam usaha patungan. Pembagian keuntungan dan kerugian harus diatur berdasarkan kesepakatan antara para pihak, termasuk mekanisme distribusi hasil usaha. Kewajiban untuk menyusun laporan keuangan secara berkala juga harus diatur, mengikuti standar akuntansi yang berlaku. Akses terhadap laporan ini biasanya dibatasi hanya untuk para pihak yang terlibat.. Klausul mengenai force majeure perlu dimasukkan untuk mengatur situasi di mana para pihak tidak dapat memenuhi kewajibannya akibat kejadian di luar kendali, seperti bencana alam atau kebijakan pemerintah. Klausul ini harus menjelaskan langkah-langkah yang harus diambil jika keadaan tersebut terjadi. Manfaat Joint Venture Joint venture menawarkan berbagai keuntungan yang signifikan bagi perusahaan yang terlibat. Keuntungan tersebut antara lain: Bagi perusahaan lokal, joint venture memberikan peluang untuk memperluas jangkauan bisnis. Dengan berkolaborasi dengan perusahaan asing, mereka dapat memasuki pasar baru yang sebelumnya sulit dijangkau, sehingga meningkatkan potensi pendapatan. Melalui joint venture, risiko usaha dapat dibagi di antara para mitra. Ini berarti bahwa tidak ada satu entitas yang harus menanggung seluruh risiko, sehingga mengurangi beban yang harus dihadapi oleh masing-masing perusahaan. Joint venture tidak hanya berfokus pada pencapaian keuntungan bersama, tetapi juga pada penciptaan keunggulan kompetitif. Dengan menggabungkan sumber daya, keahlian, dan teknologi dari masing-masing mitra, peluang untuk menghasilkan ide-ide bisnis baru menjadi lebih besar. Kerja sama ini memungkinkan perusahaan untuk mengakses teknologi dan pengetahuan terkini dari mitra luar negeri. Hal ini dapat mendorong inovasi dan pengembangan produk yang lebih canggih serta strategi bisnis yang lebih efektif. Kesimpulan Joint venture telah menjadi sebuah langkah untuk memperluas jangkauan pasar dari sebuah usaha. Kolaborasi ini dapat menggabungkan sumber daya dan keahlian guna pada beberapa perusahaan demi mencapai tujuan bisnis yang lebih besar. Dasar hukum dari perjanjian ini telah diatur dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Jika Anda berencana untuk memulai sebuah perjanjian joint venture, alangkah baiknya menyusun perjanjian yang detail dan kuat terlebih dahulu antar sesama pihak.
Kenali Perbedaan Lelang dan Tender!

Sering kali istilah lelang dan tender terdengar di sekitar kita. Kedua istilah di atas merupakan metode tawar-menawar yang umum digunakan dalam pengadaan barang dan jasa. Meski keduanya terdengar serupa, lelang dan tender sejatinya merupakan dua proses yang berbeda dalam hal penawaran barang atau jasa. Namun, baik lelang dan tender memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menjual barang. Lalu, bagaimana perbedaan kedua istilah di atas? Mari kita bahas lebih lanjut tentang perbedaan antara keduanya. Pengertian Lelang dan Tender Lelang merupakan suatu bentuk penjualan yang dilakukan di depan umum dengan tawaran harga yang semakin tinggi. Proses ini dapat dijelaskan sebagai metode penjualan yang melibatkan kompetisi dalam penawaran harga tertinggi. Kegiatan lelang bersifat terbuka untuk umum, di mana peserta berasal dari berbagai kalangan yang memiliki minat yang sama. Sementara itu, tender diartikan sebagai suatu tawaran untuk mengajukan harga, menyelesaikan pekerjaan, atau menyediakan barang. Umumnya, tender dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan besar yang menekankan pada kemampuan dan pengalaman mereka. Proses tender biasanya lebih terstruktur dan cenderung kurang terbuka dibandingkan dengan lelang. Manfaat Lelang dan Tender Lelang dan tender tentu menghadirkan beragam manfaat dalam pengadaan barang dan jasa. Manfaat dari kedua istilah di atas antara lain adalah Manfaat Tender Metode tender membantu dalam memperluas hubungan dan jaringan profesional, yang sangat penting di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Terdapat peluang untuk menjalin kerjasama jangka panjang antara penyelenggara dan vendor jika ada kesesuaian dalam penawaran. Proses tender yang terbuka dan transparan mengurangi kemungkinan terjadinya penipuan, karena semua pihak diharuskan untuk bersikap transparan. Metode ini lebih efektif dalam mendapatkan penawaran yang sesuai dengan kebutuhan. Mengikuti tender dapat meningkatkan reputasi positif bagi vendor yang berhasil. Proses tender meningkatkan kemungkinan mendapatkan penawaran terbaik dengan harga yang bersaing. Ada potensi untuk meningkatkan omzet melalui partisipasi dalam tender. Manfaat Lelang Penjualan melalui lelang didukung oleh legalitas yang kuat, baik untuk subjek maupun objek lelang, sehingga mengurangi risiko penipuan. Lelang dianggap lebih efektif karena adanya pengumuman sebelum hari pelelangan, memberikan waktu bagi peserta untuk mempersiapkan diri. Proses transaksi berlangsung lebih cepat karena pembayaran dilakukan secara tunai. Lelang menciptakan kondisi di mana harga barang menjadi lebih optimal dan bersifat terbuka, memungkinkan penawaran yang lebih kompetitif. Perbedaan Lelang dan Tender Lelang dan tender adalah dua cara yang digunakan dalam proses pengadaan barang dan jasa. Namun keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Berikut adalah perbedaan utama antara lelang dan tender: Proses lelang bersifat terbuka untuk umum, di mana siapa saja dapat berpartisipasi setelah memenuhi syarat yang ditentukan. Penyelenggara lelang biasanya mengumumkan informasi terkait lelang untuk menarik perhatian masyarakat luas. Sebaliknya, tender lebih terfokus pada peserta yang telah dipilih berdasarkan kualifikasi tertentu, sehingga hanya vendor yang dianggap mampu yang diundang untuk berpartisipasi. Dalam lelang, fokus utama adalah pada penawaran harga tertinggi dari peserta. Para penawar bersaing untuk memberikan tawaran terbaik. Di sisi lain, dalam tender, penilaian lebih ditekankan pada kualifikasi teknis dan kemampuan penyedia. Untuk memenangkan tender, peserta harus menunjukkan keahlian dan pengalaman yang relevan. Lelang melibatkan pihak-pihak dari masyarakat umum, menjadikannya sebagai proses yang transparan dan publik. Sementara tender biasanya melibatkan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah dan swasta, yang telah dipilih secara selektif. Lelang menawarkan transparansi karena semua peserta terdaftar dapat bersaing secara terbuka. Dalam tender, transparansi mungkin lebih terbatas karena hanya peserta terpilih yang diundang untuk berpartisipasi. Tujuan utama lelang adalah untuk menjual barang dengan cara mendapatkan harga tertinggi. Sedangkan tujuan tender adalah untuk mengadakan atau menyediakan barang dan jasa sesuai kebutuhan penyelenggara. Pemenang lelang ditentukan oleh penawaran harga tertinggi. Proses ini bersifat kompetitif dan terbuka. Sebaliknya, dalam tender, pemenang ditentukan berdasarkan kualifikasi teknis dan kemampuan penyedia, dengan mempertimbangkan aspek lain seperti pengalaman dan reputasi. Kesimpulan Lelang dan tender merupakan metode tawar-menawar yang lazim digunakan dalam pengadaan barang dan jasa. Kedua istilah di atas memiliki tujuan yang mirip, yaitu untuk menjual barang Namun, terdapat beberapa perbedaan dari kedua istilah di atas. Dengan memahami perbedaan-perbedaan ini, pihak-pihak yang terlibat dapat memilih metode pengadaan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Apa Keuntungan Pebisnis Jadi Pengusaha Kena Pajak?

Status Pengusaha Kena Pajak (PKP) merupakan label yang digunakan untuk identifikasi para wajib pajak yang melakukan aktivitas penyerahan barang dan jasa dikenakan pajak. PKP juga tidak hanya memiliki tanggung jawab khusus dalam hal perpajakan, tetapi turut serta menyediakan beberapa keuntungan dan hak yang signifikan. Apa saja keuntungan yang bisa dirasakan pebisnis dalam menjadi Pengusaha Kena Pajak? Langsung saja kita bahas di bawah! Pengertian Singkat Pengusaha Kena Pajak atau PKP atau mencakup individu maupun badan yang terlibat dalam penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) melalui kegiatan usaha. Kegiatan usaha tersebut meliputi produksi barang, impor, ekspor, perdagangan, ataupun penyediaan jasa. Ketentuan PKP diatur dalam Pasal 1 Undang-Undang No. 8 Tahun 1983 yang telah diperbarui dengan UU No. 42 Tahun 2009 mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), serta regulasi terkait lainnya. Namun, tidak semua pelaku usaha memenuhi syarat untuk menjadi PKP. Untuk mendapatkan status sebagai PKP, wajib pajak harus memenuhi beberapa kriteria tertentu. Secara khusus, pengusaha atau badan yang melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP dengan omzet tahunan melebihi Rp4,8 miliar diwajibkan untuk mendaftarkan usahanya dan mendapatkan pengukuhan sebagai PKP. Di sisi lain, jika omzet bruto pengusaha di bawah Rp4,8 miliar tetapi mereka tetap melakukan transaksi terkait BKP atau JKP, mereka memiliki opsi untuk memilih apakah akan dikukuhkan sebagai PKP atau tidak. Fungsi Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak Status sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) berfungsi sebagai identifikasi bagi pebisnis yang terlibat dalam transaksi barang dan jasa yang dikenakan pajak. Dengan status ini, pengusaha dapat melakukan pemungutan pajak dengan benar serta berhak mengkreditkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) masukan jika pajak keluaran yang harus dibayar lebih kecil dibandingkan pajak masukan yang telah dibayarkan. Selain itu, mereka juga berhak atas fasilitas insentif pajak, termasuk pengembalian pendahuluan atas kelebihan pembayaran PPN. Di sisi lain, terdapat kewajiban yang harus dipenuhi oleh PKP. Mereka diwajibkan untuk memungut PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang terutang dari setiap transaksi. Jika pajak keluaran lebih besar daripada pajak masukan yang dapat dikreditkan, PKP harus menyetorkan selisih PPN tersebut serta menyetorkan PPnBM yang terutang. Selain itu, laporan mengenai PPN dan PPnBM yang masih terutang juga harus disampaikan secara berkala kepada otoritas pajak. Syarat Menjadi Pengusaha Kena Pajak Menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 197 Tahun 2013. Dalam peraturan tersebut, dinyatakan bahwa pengusaha dengan omzet tahunan di bawah Rp4,8 miliar tidak diwajibkan untuk menjadi PKP, tetapi mereka tetap memiliki opsi untuk mendaftar sebagai PKP. Proses pengukuhan ini juga memerlukan pemenuhan berkas dan kelengkapan dokumen yang diperlukan, sehingga survei yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau KP2KP tempat wajib pajak terdaftar dapat berlangsung dengan baik. Dokumen-dokumen di atas mencakup fotokopi identitas pemilik usaha, NPWP perusahaan, izin usaha, serta laporan keuangan dan informasi terkait kegiatan usaha. Setelah memenuhi syarat dan mendaftar sebagai PKP, pengusaha akan mendapatkan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). Setelah pengusaha terdaftar sebagai PKP, mereka akan memiliki kewajiban tertentu, termasuk menerbitkan faktur pajak untuk setiap transaksi yang dilakukan dan melaporkan pajak sesuai ketentuan yang berlaku. Keuntungan Pengusaha Kena Pajak Menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) memberikan sejumlah keuntungan yang signifikan bagi perusahaan atau pelaku usaha. Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh: 1. Status Hukum yang Jelas Memiliki status PKP menunjukkan bahwa pengelolaan bisnis dilakukan secara legal dan sesuai dengan peraturan. Hal ini mencerminkan kepatuhan pajak yang baik, yang penting untuk membangun reputasi di mata hukum. 2. Peningkatan Kredibilitas Status PKP akan meningkatkan kredibilitas perusahaan dalam dunia industri. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memenuhi kewajiban perpajakan dengan baik, sehingga meningkatkan kepercayaan dari mitra bisnis dan pelanggan. 3. Kesempatan Kerjasama Bisnis Dengan menjadi PKP, perusahaan memiliki kesempatan untuk melakukan transaksi dengan pemerintah dan berpartisipasi dalam lelang yang diadakan oleh instansi pemerintah, yang sering kali hanya terbuka bagi PKP. 4. Efisiensi Produksi Beban produksi dan investasi dapat dibebankan kepada konsumen akhir, sehingga membantu menjaga kestabilan ekonomi dan kesehatan sirkulasi finansial perusahaan. 5. Optimalisasi Penerimaan PPN PKP dapat mengkreditkan pajak masukan, yang memungkinkan pengusaha untuk mengurangi harga jual barang atau jasa. Hal ini tentu tidak hanya memberikan keuntungan jangka pendek, tetapi juga berpotensi meningkatkan daya saing dalam jangka panjang. 6. Akses ke Pasar Lebih Luas Status PKP memungkinkan perusahaan untuk menjual barang dan jasa kepada pelanggan bisnis yang memerlukan faktur pajak untuk klaim pemotongan pajak, memperluas pasar potensial. 7. Manfaat Arus Kas PKP memiliki waktu hingga dua bulan untuk menggunakan hasil pemungutan PPN sebelum harus disetorkan, memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan arus kas perusahaan. Kesimpulan Pengusaha Kena Pajak (PKP) merupakan pengusaha yang memiliki kewajiban untuk memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas barang dan jasa yang dikenakan pajak. Tidak semua wajib pajak dapat menjadi PKP; untuk memenuhi syarat, mereka harus memiliki omzet bruto lebih dari Rp4,8 miliar. Dengan semua keuntungan yang didapat, menjadi PKP tidak hanya memberikan perlindungan hukum tetapi juga membuka berbagai peluang untuk pertumbuhan dan perkembangan bisnis. Namun, penting untuk diingat bahwa pengusaha harus tetap mematuhi kewajiban perpajakan agar dapat menikmati manfaat menjadi PKP secara berkelanjutan.
Perbedaan Mendasar KBLI Utama dan KBLI Pendukung

Dalam mendirikan sebuah perusahaan di Indonesia, salah satu langkah penting yang harus dilakukan adalah menentukan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) utama dan pendukung. KBLI berfungsi sebagai kode untuk mengkategorikan jenis kegiatan usaha yang akan dijalankan. Saat mendaftar, perusahaan diwajibkan memilih KBLI yang sesuai dengan aktivitas bisnisnya, baik untuk KBLI utama maupun untuk KBLI pendukung. Proses perizinan berusaha, yang sering kali dianggap sebagai beban administratif, sebenarnya memiliki peranan krusial dalam memastikan keberlangsungan dan kesuksesan suatu bisnis. Lalu, bagaimana perbedaan dari KBLI utama dan pendukung? Langsung saja kita bahas di bawah ini! Apa Itu KBLI? Perizinan berusaha merupakan bentuk legalitas yang diberikan kepada pelaku usaha untuk memulai dan menjalankan kegiatan usahanya. Proses perizinan ini ditentukan berdasar tingkat risiko yang terkait dengan kegiatan usaha tersebut. Salah satu syarat penting untuk mendapatkan izin ini adalah pelaku usaha harus memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Untuk memperoleh NIB, pelaku usaha wajib mengajukan permohonan melalui sistem Online Single Submission (OSS) dengan memilih kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). KBLI sendiri diatur dalam Peraturan Badan Pusat Statistik Nomor 2 Tahun 2020, yang mendefinisikan KBLI sebagai sistem pengklasifikasian aktivitas ekonomi di Indonesia yang menghasilkan produk atau layanan, baik berupa barang maupun jasa. Pengklasifikasian ini berfungsi sebagai acuan standar serta alat untuk koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dalam penyelenggaraan statistik ekonomi di tanah air. Dengan demikian, KBLI menjadi sangat penting bagi pelaku usaha untuk memastikan bahwa usaha mereka dapat berjalan lancar sesuai regulasi yang berlaku. Pengertian Lanjutan KBLI Utama dan Pendukung KBLI Utama adalah kode yang merepresentasikan aktivitas inti dari sebuah bisnis. Aktivitas ini biasanya menjadi fokus utama perusahaan dan berfungsi sebagai sumber pendapatan utama. Oleh karena itu, pemilihan KBLI Utama sangat penting karena akan mempengaruhi izin usaha dan regulasi yang harus diikuti oleh perusahaan. Di sisi lain, KBLI Pendukung adalah kode yang mencakup aktivitas tambahan yang berfungsi mendukung kegiatan utama bisnis. Meskipun tidak menjadi fokus utama, kegiatan ini tetap relevan dalam operasional sehari-hari. Menurut Pasal 187 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 2021, kegiatan usaha pendukung didefinisikan sebagai berikut: Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung kelancaran operasional kegiatan usaha utama. Kegiatan ini tidak menjadi sumber pendapatan utama bagi pelaku usaha. Kegiatan pendukung dapat dilakukan dan diselesaikan sebelum kegiatan usaha utama dimulai. Perbedaan KBLI Utama dan Pendukung Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia memiliki dua kategori yaitu KBLI utama dan KBLI Pendukung. Keduanya berfungsi untuk pengelompokkan aktivitas ekonomi di Indonesia, namun memiliki perbedaan mendasar dalam konteks penggunaannya. Perbedaan kedua KBLI di atas adalah: Definisi KBLI Utama merujuk pada kode yang mencerminkan aktivitas inti dari suatu usaha. Ini adalah kegiatan yang menjadi sumber pendapatan utama dan harus dicantumkan dalam akta pendirian badan usaha. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan bergerak di bidang manufaktur, maka KBLI Utama akan mencakup kode yang sesuai dengan jenis manufaktur tersebut. Sebaliknya, KBLI Pendukung mencakup kegiatan tambahan yang tidak menjadi fokus utama tetapi tetap relevan untuk mendukung operasi bisnis. Misalnya, jika perusahaan yang sama juga menawarkan layanan pemeliharaan atau distribusi produk, maka kegiatan tersebut akan dikategorikan sebagai KBLI Pendukung. Kode ini tidak selalu perlu dicantumkan dalam akta pendirian tetapi harus diinput dalam sistem OSS (Online Single Submission) untuk keperluan perizinan. Jenis Usaha Dalam konteks jenis usaha, KBLI Utama berkaitan langsung dengan kegiatan usaha yang tercantum dalam legalitas perusahaan dan bertujuan untuk menghasilkan keuntungan. Sesuai dengan Pasal 187 ayat (2) PP 5/2021, kegiatan ini merupakan inti dari bisnis dan menjadi dasar bagi sebagian besar perizinan. Sementara itu, KBLI Pendukung berfungsi untuk mendukung kelancaran kegiatan usaha utama. Menurut Pasal 187 ayat (3) PP 5/2021, kegiatan ini tidak menjadi sumber pendapatan utama dan dapat dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan utama. Contohnya termasuk aktivitas administrasi atau layanan pelanggan yang mendukung operasional bisnis. Fungsi Fungsi dari KBLI Utama adalah sebagai dasar perizinan yang harus diperoleh pelaku usaha untuk memulai usahanya. Ketika bisnis semakin berkembang, perusahaan mungkin perlu menambah variasi produk atau layanan, di mana KBLI Pendukung berperan penting untuk memberikan legalitas pada aktivitas tambahan tersebut. Pencantuman pada Akta Pendirian Badan Usaha Perlu dicatat bahwa KBLI Utamawajib dicantumkan dalam akta pendirian badan usaha. Hal ini tentu berbeda dengan KBLI Pendukung, yang meskipun tidak selalu muncul dalam akta, tetap dapat diajukan melalui sistem OSS. Pelaku usaha memiliki opsi untuk melakukan perubahan data usaha guna mencakup KBLI Pendukung yang relevan dengan aktivitas tambahan mereka. Kesimpulan Perbedaan KBLI Utama dan Pendukung Menentukan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) yang tepat adalah langkah krusial dalam mendirikan dan menjalankan bisnis di Indonesia. KBLI utama berfungsi sebagai representasi dari kegiatan inti perusahaan, sedangkan KBLI pendukung mencakup aktivitas tambahan yang bantu meningkatkan operasional bisnis. Pemilihan KBLI yang tepat tidak hanya mempermudah proses pengajuan izin, tetapi juga memastikan bahwa perusahaan mematuhi semua regulasi sehingga dapat beroperasi dengan lancar. Penting bagi pelaku usaha untuk memahami Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) agar dapat mengajukan permohonan perizinan berusaha dengan tepat dan sesuai regulasi yang berlaku.
Pentingnya Sertifikat Halal Bagi Bisnis!

Sertifikat halal merupakan aset berharga yang dapat mendukung keberhasilan bisnis, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, menempatkan kehalalan produk sebagai prioritas utama. Dengan sertifikasi ini, produk tidak hanya mendapatkan nilai tambah, tetapi juga membuka berbagai manfaat baik dalam hal kepercayaan konsumen maupun peluang pasar yang lebih luas. Sertifikasi halal juga menjadi elemen kunci untuk memastikan setiap produk makanan, minuman, kosmetik, farmasi, dan barang konsumsi lainnya mematuhi prinsip-prinsip syariat Islam. Oleh karena itu, penting untuk memahami manfaat dan langkah-langkah dalam mendapatkan sertifikasi halal di Indonesia. Apa Itu Sertifikasi Halal? Sertifikasi halal merupakan sebuah dokumen resmi yang menegaskan bahwa produk yang ditawarkan telah memenuhi kriteria kehalalan sesuai dengan syariat Islam. Proses sertifikasi ini dilakukan oleh lembaga resmi seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Lembaga di atas merupakan pihak yang melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap produk sebelum menerbitkan sertifikat. Proses Sertifikasi ini melibatkan beberapa tahap, termasuk pengajuan dokumen, audit oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), dan sidang fatwa oleh MUI. Sertifikat halal yang diterbitkan berlaku selama empat tahun dan dapat diperpanjang. Produk yang Tidak Bisa Mendapatkan Sertifikat Halal Patut diingat bahwa ada beberapa produk yang tidak bisa mendapatkan sertfikasi halal. Produk-produk tersebut di antaranya adalah: 1. Produk yang Secara Jelas Mengandung Bahan Haram – Daging Babi dan Derivatif Semua produk yang mengandung babi atau derivatifnya seperti gelatin babi tidak akan bisa mendapatkan sertifikasi halal. – Minuman Beralkohol Minuman beralkohol seperti wine, bir, dan jenis-jenis lainnya yang tidak diperuntukkan untuk pengobatan tidak akan mendapatkan sertifikasi halal karena mengandung alkohol berlebihan. 2. Produk yang Mengandung Unsur Najis – Terkontaminasi Najis Makanan atau minuman yang terkontaminasi najis seperti darah, kotoran, atau bahan lain yang dianggap tidak suci tidak akan bisa mendapatkan sertifikasi halal. – Bahan Kosmetik/Farmasi Tidak Halal Produk kosmetik atau farmasi yang mengandung bahan najis seperti plasenta yang tidak halal juga tidak akan mendapatkan sertifikasi halal. 3. Produk dengan Bahan Tidak Transparan – Enzim dari Sumber Hewan Yang Tidak Jelas Kehalalannya Penggunaan enzim dari sumber hewan yang tidak jelas kehalalannya dapat membuat sebuah produk tidak layak untuk disertifikasi halal. – Campuran Bahan Kimia Tanpa Identifikasi Sumber Produk yang mengandung campuran bahan kimia yang sumbernya tidak teridentifikasi juga tidak akan mendapatkan sertifikasi halal karena kurang transparansi dalam bahan baku. 4. Produk Non-Konsumsi yang Mengandung Bahan Haram – Lipstik/Lotion Menggunakan Bahan Hewan Haram Lipstick atau lotion yang menggunakan bahan dari hewan haram seperti gelatin babi tidak akan mendapatkan sertifikasi halal. – Sabun/Parfum dengan Kandungan Alkohol Tinggi Sabun atau parfum dengan kandungan alkohol tinggi juga tidak akan mendapatkan sertifikasi halal karena mengandung alkohol berlebihan. Cara Mendapatkan Sertifikat Halal Untuk mendapatkan sertifikasi halal, kamu perlu mengikuti beberapa langkah dengan rinci dan teliti. Berikut ini adalah cara untuk mendapatkan sertifikasinya: 1. Persiapan Dokumen – Data Pelaku Usaha Pastikan Anda memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) atau dokumen alternatif seperti NPWP, SIUP, atau lainnya. – Nama dan Jenis Produk Tentukan nama dan jenis produk yang akan melalui proses sertifikasi halal. – Daftar Produk, Bahan, dan Pengolahan Lampirkan daftar bahan baku, proses produksi, dan detail pengolahan produk. Pastikan semua bahan yang digunakan bersifat halal dan tidak terkontaminasi dengan bahan haram atau najis. 2. Pengajuan ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Akses website resmi PTSP Halal (`ptsp.halal.go.id`) dan ajukan permohonan sertifikasi halal secara daring. Isi formulir pendaftaran dengan lengkap, termasuk profil perusahaan, data penanggung jawab, aspek legal, dan detail pabrik/outlet. 3. Audit Proses Produksi Setelah dokumen lengkap, BPJPH akan mengirim dokumen ke Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) untuk proses audit. Tim auditor akan memeriksa seluruh proses produksi untuk memastikan tidak ada bahan atau prosedur yang melanggar prinsip kehalalan. 4. Penerbitan Sertifikat Jika semua persyaratan terpenuhi, BPJPH akan menerbitkan surat tanda terima dokumen (STTD) dan kemudian LPH akan melakukan pemeriksaan dan pengujian produk. Hasil pemeriksaan akan disampaikan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk sidang fatwa. Setelah itu, BPJPH akan menerbitkan sertifikat halal yang dapat diunduh melalui aplikasi PTSP Halal. Alasan Pentingnya Sertifikat Halal Sertifikasi halal memiliki peran yang sangat penting dalam dunia bisnis, terutama bagi produk yang ditujukan untuk konsumen Muslim. Berikut adalah beberapa alasan mengapa sertifikasi halal menjadi krusial: Produk yang memiliki sertifikasi halal lebih dipercaya oleh konsumen, terutama di kalangan umat Muslim. Sertifikasi ini memberikan jaminan bahwa produk tersebut aman dan sesuai dengan prinsip-prinsip kehalalan, sehingga konsumen merasa lebih nyaman saat menggunakannya. Hal ini juga dapat menarik perhatian konsumen non-Muslim yang semakin peduli terhadap kualitas dan asal usul produk yang mereka beli. Dengan adanya sertifikasi halal, peluang untuk memasuki pasar internasional menjadi lebih terbuka, terutama di negara-negara dengan populasi muslim yang besar. Permintaan akan produk halal tidak hanya tinggi di Indonesia tetapi juga di berbagai belahan dunia, sehingga sertifikasi halal menjadi kunci untuk memperluas pangsa pasar. Di Indonesia, sertifikasi halal telah menjadi kewajiban berdasarkan UU No. 33 Tahun 2014, yang mengharuskan semua produk makanan, minuman, dan kosmetik untuk mendapatkan sertifikat halal sebelum dipasarkan. Hal ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap regulasi tidak hanya penting untuk memenuhi syarat hukum, tetapi juga menjaga reputasi perusahaan di mata konsumen. Memiliki sertifikat halal memberikan nilai tambah bagi produk dan meningkatkan daya saing di pasar. Di era globalisasi yang semakin kompetitif ini, produk yang telah tersertifikasi halal cenderung lebih diminati karena dianggap lebih berkualitas dan memenuhi standar tertentu. Selain itu, sertifikasi ini juga dapat membantu UMKM dalam meningkatkan kualitas produk mereka dan memperkuat posisi mereka di pasar domestik dan internasional. Kesimpulan Sertifikat halal menjadi aset berharga untuk melakukan kegiatan berbisnis di daerah yang memiliki populasi Muslim yang besar. Di Indonesia, sertifikasi ini ditempatkan sebagai prioritas utama untuk mendukung keberhasilan bisnis, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Karena itu, sertifikasi halal bukan hanya sekadar label, tetapi merupakan alat strategis yang dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas jangkauan pasar, memenuhi regulasi, serta meningkatkan daya saing di pasar global.
Kriteria Merek yang Tidak Dapat Didaftarkan ke DJKI!

Kriteria merek tentu memiliki peranan penting dalam dunia bisnis yaitu berfungsi untuk memperkenalkan layanan kepada konsumen serta sebagai alat untuk membedakan produk dari satu bisnis dengan bisnis lainnya. Karena itu, untuk melindungi hak kepemilikan dan mencegah penyalahgunaan oleh pihak lain, pendaftaran merek sudah menjadi suatu keharusan. Sayangnya, tidak semua merek memenuhi syarat untuk didaftarkan. Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, terdapat beberapa kriteria yang menjadikan sebuah merek tidak dapat didaftarkan. Hal ini pastinya sangatlah penting untuk dipahami karena sering kali menjadi kendala bagi pemilik usaha dalam proses pendaftaran merek mereka. Lalu apa saja kriteria merek yang tidak dapat didaftarkan? Langsung saja kita bahas di bawah! Pengertian Singkat Merek Secara harafiah, merek merupakan tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 dimensi dan/atau 3 dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 atau lebih unsur tersebut. Kehadiran merek bertujuan untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh individu atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan lainnya. Untuk mendapatkan sebuah perlindungan hukum, sebuah merek harus terdaftar terlebih dahulu. Perlindungan hukum ini biasanya berlangsung selama 10 tahun sejak tanggal penerimaan permohonan pendaftaran merek yang bersangkutan, dan dapat diperpanjang setelah masa tersebut. Selain itu, terdapat juga beberapa fungsi pemakaian merek yang meliputi: Membedakan hasil produksi yang dihasilkan seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum dengan produksi orang lain atau badan hukum lainnya. Memfasilitasi promosi hasil produksinya cukup dengan menyebut mereknya, meningkatkan kesadaran pasar dan loyalitas konsumen. Memberikan jaminan atas mutu barangnya, sehingga konsumen percaya akan kualitas produk yang mereka gunakan. Menunjukkan asal produk/jasa dihasilkan, membantu konsumen memilih produk yang tepat berdasarkan reputasi dan standar yang sudah dikenal. Syarat Pendaftaran Merek Sebelum mengajukan pendaftaran merek, kamu perlu memahami bahwa ada beberapa persyaratan utama yang harus dipenuhi. Persyaratan ini penting untuk memastikan bahwa merek nantinya dapat didaftarkan dan dilindungi secara sah. Berikut ini adalah syarat-syarat yang harus kamu penuhi: Nama merek yang akan kamu pilih haruslah berbeda dan tidak sama dengan merek yang sudah ada. Jika adanya nama merek lain yang mirip atau identik dengan merek kamu dan sudah didaftarkan terlebih dahulu, maka kemungkinan besar pendaftarannya akan ditolak. Oleh karena itu, lakukanlah riset terlebih dahulu untuk memastikan bahwa nama merek kamu belum digunakan oleh pihak lain dan tidak melanggar hak cipta atau merek dagang yang sudah terdaftar sebelumnya. Keunikan nama merek juga merupakan hal yang sangat penting agar mudah dikenali dan tidak terlibat dalam masalah hukum. Deskripsi mengenai produk atau layanan yang akan menggunakan nama merek harus disusun dengan jelas dan lengkap. Kamu perlu memberikan penjelasan rinci perihal produk atau layanan tersebut. Deskripsi ini akan membantu pihak berwenang dalam memahami jenis produk atau layanan yang kamu tawarkan serta memastikan bahwa tidak ada tumpang tindih dengan merek lain. Deskripsi yang jelas juga berfungsi untuk melindungi merek kamu dari kemungkinan penyalahgunaan di kemudian hari. Pastikan juga bahwa deskripsi yang kamu tulis tersebut relevan dan sesuai dengan fungsi dari produk atau layanan yang dipasarkan. Kamu diwajibkan untuk menyertakan bukti identitas diri sebagai pemohon pendaftaran merek. Bukti ini bisa berupa KTP, paspor, atau dokumen identitas resmi lainnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pendaftaran dilakukan oleh pihak yang sah dan bertanggung jawab. Dokumen identitas ini juga berperan dalam proses verifikasi dan validasi data. Pastikan bahwa dokumen yang diserahkan masih berlaku dan tidak terdapat kesalahan informasi yang dapat mempengaruhi proses pendaftaran merek. Kriteria Merek yang Tidak Dapat Didaftarkan Sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Merek, terdapat beberapa alasan mengapa sebuah merek tidak dapat didaftarkan. Berikut adalah ringkasan dari ketentuan tersebut: Ketentuan yang pertama adalah merek tidak boleh melanggar ideologi negara, peraturan hukum yang berlaku, moralitas, agama, kesusilaan, atau ketertiban umum. Hal ini menunjukkan komitmen negara untuk menjaga nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat. Kemudian, merek yang diajukan tidak boleh sama dengan atau hanya merujuk pada barang dan/atau jasa yang ingin didaftarkan. Aturan ini bertujuan untuk menghindari kebingungan di pasar. Merek juga tidak boleh mengandung elemen yang dapat menyesatkan publik mengenai asal, kualitas, jenis, ukuran, atau tujuan penggunaan barang dan/atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya. Ketentuan selanjutnya adalah merek tidak boleh mencantumkan informasi yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, atau khasiat dari produk atau jasa yang ditawarkan. Hal ini merupakan sesuatu yang penting agar konsumen tidak tertipu oleh klaim tidak benar. Selanjutnya, merek harus memiliki daya pembeda yang jelas. Jika tidak memiliki daya pembeda, pendaftaran akan ditolak. Daya pembeda ini penting untuk membedakan produk di pasar yang kompetitif. Ketentuan yang terakhir adalah nama-nama umum atau lambang milik umum juga tidak dapat didaftarkan sebagai merek. Aturan ini memastikan bahwa istilah yang digunakan dalam perdagangan tetap tersedia untuk semua pelaku usaha. Kriteria Merek yang Ditolak Pendaftarannya Pendaftaran merek dapat ditolak oleh pihak berwenang jika tidak memenuhi kriteria tertentu yang diatur dalam undang-undang. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa permohonan pendaftaran merek bisa ditolak: Jika merek yang diajukan memiliki kesamaan dengan merek yang sudah terdaftar oleh pihak lain untuk barang atau jasa yang sejenis, baik secara keseluruhan maupun sebagian, maka pendaftaran akan ditolak. Hal ini bertujuan untuk menghindari kebingungan di pasar dan melindungi hak pemilik merek yang sudah ada. Permohonan juga akan ditolak jika merek yang diajukan mirip dengan merek terkenal milik pihak lain, baik untuk barang atau jasa sejenis maupun tidak sejenis, selama memenuhi kriteria tertentu. Merek yang diajukan tidak boleh memiliki kesamaan dengan indikasi geografis yang telah terdaftar. Hal ini tentu karena dapat merugikan pemilik indikasi geografis tersebut. Pendaftaran akan ditolak jika merek menyerupai nama, singkatan nama, foto, atau nama badan hukum milik orang lain tanpa adanya izin tertulis dari pemilik hak tersebut. Aturan Ini jelas diperuntukkan sebagai perlindungan privasi dan hak atas nama individu atau entitas hukum. Merek yang menyerupai bendera, lambang, simbol, atau emblem suatu negara atau lembaga nasional dan internasional juga tidak dapat didaftarkan tanpa izin resmi dari pihak berwenang. Ketentuan yang terakhir, jika merek tersebut merupakan tiruan dari tanda atau cap resmi yang digunakan oleh negara atau lembaga pemerintah, pendaftaran juga akan ditolak kecuali ada persetujuan tertulis dari pihak berwenang. Kesimpulan Penting untuk memahami kriteria-kriteria yang menyebabkan suatu merek tidak dapat didaftarkan atau ditolak
Virtual Office dan Manfaatnya untuk UMKM

Penggunaan virtual office semakin banyak diminati oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan kantor virtual, para pengusaha yang memiliki anggaran terbatas dapat memperoleh alamat bisnis resmi, nomor telepon, serta layanan resepsionis tanpa perlu menyewa ruang kantor fisik. Konsep ini memanfaatkan teknologi untuk memberikan akses ke berbagai layanan dari lokasi yang jauh. Selain itu, kantor virtual juga menawarkan fleksibilitas yang tinggi, memungkinkan pengusaha untuk fokus pada pengembangan bisnis mereka tanpa terbebani oleh biaya operasional yang tinggi. Kalau kamu tertarik untuk mengetahui lebih lanjut perihal kantor virtual, penting untuk memahami berbagai aspek dan manfaat yang ditawarkan dari virtual office. Pengertian Singkat Virtual Office Virtual office merupakan konsep kantor sewa non-fisik yang menyediakan alamat bisnis untuk keperluan legal. Dalam konsep ini, beberapa perusahaan dapat berbagi fasilitas tanpa harus memiliki ruang fisik. Meskipun tidak ada lokasi fisik yang digunakan, alamat dari virtual office tetap sah dan dapat dipakai untuk keperluan surat-menyurat. Selain itu, layanan ini biasanya dikelola oleh resepsionis profesional yang menangani berbagai kebutuhan administrasi. Layanan yang Disediakan Virtual office kini menjadi solusi modern yang memungkinkan perusahaan untuk memiliki alamat bisnis tanpa memerlukan ruang kantor fisik. Konsep ini semakin populer seiring dengan meningkatnya model kerja jarak jauh. Beberapa layanan utama yang dihadirkan kantor virtual: Memberikan identitas resmi yang diperlukan untuk keperluan legal dan meningkatkan kredibilitas perusahaan. Menyediakan manajemen untuk pengiriman dan penerimaan surat atau paket, memastikan komunikasi tetap lancar. Menawarkan nomor telepon khusus yang meningkatkan citra profesional dan memudahkan klien untuk menghubungi perusahaan. Memfasilitasi pertemuan jarak jauh, memungkinkan kolaborasi yang efektif meskipun berada di lokasi yang berbeda. Menyediakan bantuan administratif yang membantu kelancaran operasional bisnis, sehingga pemilik dapat fokus pada kegiatan inti. Manfaat Virtual Office Penggunaan virtual office memberikan berbagai manfaat yang signifikan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama bagi mereka yang baru memulai. Berikut adalah beberapa keuntungan utama dari penggunaan virtual office: Dengan mengadopsi kantor virtual, UMKM dapat mengurangi pengeluaran operasional secara drastis. Tanpa perlu menyewa ruang kantor fisik, biaya untuk sewa, utilitas, dan peralatan kantor dapat diminimalkan. Hal ini memungkinkan pelaku usaha untuk memiliki lebih banyak fleksibilitas finansial, sehingga dapat lebih fokus pada pengembangan bisnis mereka. Virtual office memberikan kebebasan bagi UMKM untuk menentukan lokasi kerja. Tim dapat bekerja dari rumah, kafe, atau ruang kerja bersama tanpa terikat pada satu lokasi tertentu. Fleksibilitas ini tidak hanya memudahkan pengaturan jam kerja tetapi juga membantu menciptakan keseimbangan yang lebih baik antara kehidupan pribadi dan profesional. Meskipun tidak memiliki kantor fisik, UMKM masih dapat memanfaatkan berbagai layanan profesional melalui virtual office. Layanan seperti pengelolaan surat, penerimaan telepon, dan akses ke ruang rapat virtual tersedia untuk menjaga citra profesional bisnis tanpa menambah beban biaya. Kantor virtual dilengkapi dengan berbagai alat dan platform kolaborasi online yang memungkinkan untuk bekerja sama secara efektif meskipun berada di lokasi berbeda. Penggunaan aplikasi video conference dan berbagi dokumen secara real-time meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja tim. Kesimpulan Virtual office bukan hanya sekadar alternatif untuk kantor fisik, namun merupakan solusi strategis bagi perusahaan modern yang ingin beradaptasi dengan perubahan cara kerja saat ini. Kantor virtual tetap menawarkan fasilitas yang tersedia seperti di kantor fisik, namun perusahaan tidak memerlukan biaya sewa jangka panjang. Hal ini memberikan fleksibilitas untuk bekerja dari mana saja sambil memiliki akses menuju layanan profesional layaknya perusahaan pada umumnya. Karena itu, kantor virtual menjadi pilihan menarik bagi banyak bisnis yang ingin berkembang di era digital ini.