NIB: Pengertian, Manfaat, dan Kegunaannya

NIB: Pengertian, Manfaat, dan Kegunaannya

NIB (Nomor Induk Berusaha)  merupakan identitas unik yang diberikan kepada pelaku usaha atau perusahaan di Indonesia.  Nomor tersebut juga berfungsi sebagai pengganti SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) dan TDP (Tanda Daftar Perusahaan), sekaligus mempermudah proses perizinan untuk kegiatan komersial dan operasional bisnis. Untuk memahami lebih dalam mengenai pentingnya NIB bagi para pengusaha, mari kita telusuri informasi selengkapnya dalam pembahasan di bawah ini. Pengertian NIB Nomor Induk Berusaha (NIB) merupakan identitas resmi pelaku usaha yang dikeluarkan melalui sistem Online Single Submission (OSS).  NIB sendiri ini terdiri dari 13 digit angka, dilengkapi tanda tangan elektronik dan fitur keamanan.  Setelah memperoleh Nomor Induk Berusaha, pengusaha dapat mengajukan Izin Usaha serta Izin Komersial atau Operasional sesuai bidang usaha mereka. Proses pendaftaran NIB dapat dilakukan secara daring melalui platform OSS, mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.  Layanan OSS ini tersedia bagi seluruh entitas usaha di Indonesia, baik perorangan maupun badan hukum, termasuk UMKM dan non-UMKM, yang hendak mengurus perizinan usaha. Lebih daripada itu, kepemilikan Nomor Induk Berusaha sangat memudahkan pelaku usaha untuk terdaftar sebagai peserta jaminan sosial kesehatan dan ketenagakerjaan. Adapun NIB berlaku selama suatu usaha berjalan atau seumur hidup.  Pembuatannya bisa dilakukan sekali saja. Namun, perlu dilakukan pembaruan apabila terjadi perubahan alamat. Manfaat NIB memiliki peran penting bagi pelaku usaha, utamanya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Apa saja manfaat yang bisa didapat setelah membuat NIB? 1. Bukti Resmi Usaha Anda Hanya dengan Nomor Induk Berusaha , usaha Anda telah diakui secara resmi oleh pemerintah.  NIB menjadi penting karena membuat usaha menjadi sah secara hukum.  Jika ada masalah hukum, Nomor Induk Berusaha juga membantu melindungi usaha Anda. 2. Satu Dokumen untuk Banyak Izin Dengan satu NIB, Anda bisa lebih mudah mendapatkan berbagai izin yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha.  Hal ini tentu sangat menghemat waktu dan tenaga, di mana Anda tidak perlu bolak-balik mengurus banyak dokumen yang berbeda. 3. Lebih Mudah Mendapat Pinjaman  Bank dan lembaga keuangan biasanya lebih percaya pada usaha yang memiliki NIB.  Dengan Nomor Induk Berusaha , peluang untuk mendapatkan pinjaman modal menjadi lebih besar dan bisa sangat membantu saat ingin mengembangkan usaha Anda. 4. Membuka Peluang Kerjasama Memiliki NIB membuat Anda lebih mudah untuk bekerjasama dengan perusahaan lain, ikut dalam proyek pemerintah, atau menjalin hubungan dengan perusahaan besar. 5. Perlindungan Hukum Lebih Kuat Jika terjadi masalah hukum, usaha dengan NIB punya perlindungan yang lebih kuat.  Karena itu, membuat Nomor Induk Berusaha akan memberikan rasa aman dalam menjalankan usaha, karena Anda tahu bahwa bisnis memiliki dukungan hukum yang legal di belakang. 6. Akses ke Bantuan Pemerintah Banyak program bantuan, pelatihan, atau dukungan lain dari pemerintah yang mensyaratkan NIB.  Karena itu, memiliki Nomor Induk Berusaha akan membuat Anda bisa lebih mudah mendapatkan kesempatan untuk memajukan usaha. 7. Meningkatkan Kepercayaan pada Usaha Ketika pelanggan atau investor mengerti bahwa usaha Anda memiliki NIB, mereka akan lebih percaya.  Ini menunjukkan bahwa Anda menjalankan usaha dengan serius dan mengikuti aturan yang berlaku. Kegunaan NIB Nomor Induk Berusaha sebagai instrumen utama dalam proses perizinan usaha di Indonesia merupakan dampak langsung dari pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja.  NIB telah dirancang untuk mengoptimalkan dan menyederhanakan prosedur perizinan yang sebelumnya cenderung kompleks. Sebelum reformasi Undang Undang Cipta Kerja, pelaku usaha diharuskan memperoleh berbagai dokumen perizinan seperti Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), dan Surat Keterangan Usaha (SKU)  Lebih lanjut lagi, Nomor Induk Berusaha juga mengintegrasikan perizinan spesifik seperti Angka Pengenal Impor – Produsen (API-P) atau Umum (API-U), serta Nomor Induk Kepabeanan.  Penggabungan ini secara signifikan mereduksi kerumitan birokrasi yang sebelumnya selalu menjadi hambatan bagi pelaku usaha. Nomor Induk Berusaha kini dapat dibuat melalui sistem Online Single Submission (OSS) untuk memberikan proses perizinan usaha yang lebih efisien, transparan, dan terintegrasi.  Reformasi perizinan ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperbaiki peringkat kemudahan berusaha di Indonesia, serta menstimulasi investasi baik dari dalam maupun luar negeri.

Lebih Baik Mana Antara PT Dan CV?

Lebih Baik Mana Antara PT Dan CV?

PT dan CV adalah dua bentuk badan usaha yang populer di Indonesia untuk memenuhi syarat wajib legalitas usaha bagi pengusaha.  Meski keduanya umum digunakan, masih banyak orang yang belum memahami perbedaan mendasar antara keduanya. Penting sekali untuk memahami perbedaan keduanya sebelum mengurus izin usaha karena kedua badan usaha ini mencakup berbagai aspek dan kriteria yang khas dan berbeda untuk pada masing-masing bentuknya.  Dengan mengetahui perbedaan antara PT dan CV, pastinya akan sangat membantu Anda memilih bentuk badan usaha yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tujuan bisnis. Mari kita pelajari lebih lanjut perbedaan signifikan antara kedua badan usaha tersebut yang perlu diketahui sebelum memulai perjalanan bisnis. Penjelasan SIngkat Sebelum membahas lebih lanjut perihal perbedaan keduanya, sebaiknya kita mengetahui sekilas tentang kedua badan usaha ini.  CV (Commanditaire Vennootschap) dan PT (Perseroan Terbatas) merupakan dua jenis badan usaha yang memiliki karakteristik berbeda.  CV terbentuk dari kemitraan antara satu atau lebih individu, dengan pembagian peran antara sekutu aktif dan pasif. Sementara itu, PT adalah entitas hukum dengan modal yang terbagi dalam bentuk saham. PT diatur secara khusus oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 dan umumnya digunakan untuk usaha berskala besar, sementara CV lebih sering menjadi pilihan bagi usaha kecil menengah atau UMKM. Perbedaan mendasar antara PT dan CV mencakup aspek struktur kepemilikan, tanggung jawab hukum, dan skala operasional.  Memahami karakteristik unik dari PT dan CV akan membantu pengusaha dalam mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kebutuhan serta tujuan bisnis mereka. Perbedaan PT dan CV Setelah mengetahui definisi PT dan CV secara singkat, selanjutnya kita akan membahas mengenai perbedaan kedua badan usaha tersebut. Mengetahui perbedaan keduanya sebelum mendirikan badan usaha merupakan hal penting serta krusial. Secara garis besar, beberapa perbedaan antara PT dan CV adalah: 1. Bentuk Perusahaan Salah satu perbedaan utama di antara keduanya terletak pada bentuk perusahaannya. CV merupakan bentuk perusahaan yang lebih sederhana serta dapat didirikan dengan mudah oleh dua orang atau lebih.  Sementara itu, PT adalah bentuk perusahaan yang lebih kompleks dan memiliki struktur organisasi yang lebih terperinci. 2. Modal Perusahaan Dalam hal permodalan, CV menawarkan fleksibilitas tanpa batasan hukum yang ketat. Para sekutu memiliki keleluasaan untuk menentukan besaran modal sesuai kesepakatan bersama.  PT mengharuskan penyetoran modal dasar oleh para pemegang saham, proporsional dengan persentase kepemilikan mereka. Modal ini menjadi fondasi operasional dan aset perusahaan. 3. Pendiri CV terlahir dari inisiatif minimal dua sekutu, di mana setiap sekutu memiliki kedudukan setara dalam kepemilikan dan tanggung jawab tak terbatas terhadap perusahaan. \ Di sisi lain, PT dapat diinisiasi oleh satu atau lebih pemegang saham, dengan tanggung jawab yang terbatas hanya sebesar modal yang telah disetor. 4. Pengurusan Manajemen CV bersifat lebih langsung, tanpa kehadiran direksi atau dewan komisaris. Para sekutu terlibat aktif dalam operasional sehari-hari.  Sebaliknya, PT menganut struktur organisasi yang lebih formal, ditandai dengan keberadaan direksi dan dewan komisaris yang memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas dalam pengelolaan perusahaan. 5. Pendaftaran Proses pendirian CV relatif sederhana, dimulai dengan perjanjian tertulis antara para sekutu yang mencakup aspek-aspek krusial seperti pembagian keuntungan dan kerugian, serta peran masing-masing pihak.  Hal ini berbanding terbalik dengan PT, di mana PT menjalani prosedur pendirian yang lebih kompleks, melibatkan pengajuan akta pendirian ke notaris, penerbitan anggaran dasar, pendaftaran di instansi terkait, hingga perolehan Surat Izin Usaha dari Kementerian Hukum dan HAM. 6. Nama Perusahaan Perbedaan terakhir adalah pemilihan nama perusahaan.  CV menikmati kebebasan dalam pemilihan nama tanpa batasan khusus.  Namun, PT harus tunduk pada regulasi yang lebih ketat dalam penamaan.  Nama PT harus unik, tidak boleh serupa dengan perusahaan lain, dan wajib melalui proses pemeriksaan serta pendaftaran di instansi berwenang seperti Kementerian Hukum dan HAM atau Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Apa Perbedaan PT Perorangan dan PT Reguler?

PT Perorangan dan PT Reguler

PT Perorangan dan PT Reguler dapat membantu pengusaha untuk membangun bisnis yang kokoh.  Pembentukan badan usaha resmi seperti PT dapat memperkuat stabilitas Usaha Mikro dan Kecil (UMK), membuka peluang pendanaan lebih luas, dan mendorong kemajuan usaha.  Bagi kamu yang masih ragu antara mendirikan PT Perorangan atau PT Reguler, penting untuk memahami perbedaan keduanya. PT atau Perseroan Terbatas  merupakan struktur bisnis yang banyak dipilih di Indonesia karena menawarkan perlindungan tanggung jawab terbatas bagi pemiliknya.  Saat ini, terdapat dua jenis PT yang dikenal: PT Perorangan dan PT Reguler.  Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri yang dapat menjadi pertimbangan bagi para wirausahawan dalam memilih bentuk usaha.  Mari kita uraikan secara rinci perbedaan antara kedua jenis PT tersebut. Definisi PT Perorangan dan PT Reguler PT Perorangan merupakan jenis perseroan terbatas yang dimiliki oleh satu orang saja.  Untuk kepemilikan, cukup satu orang saja yang bertindak sebagai pemilik sekaligus pengurus perusahaan. Modal minimum yang dibutuhkan untuk mendirikan PT Perorangan biasanya lebih rendah dibandingkan dengan PT Reguler . PT Reguler adalah bentuk perseroan terbatas yang dimiliki oleh lebih dari satu orang pemegang saham dan bentuk PT yang paling umum ditemui. PT Reguler dapat dimiliki oleh beberapa pemegang saham, yang berupa individu atau badan hukum. Untuk pendanaan, modal minimum dalam pendirian PT Reguler cenderung lebih tinggi dan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku. Perbedaan PT Perorangan dan PT Reguler Setelah mengetahui definisinya, selanjutnya mari kita simak perbedaan antara PT Perorangan dengan PT Reguler. Kira-kira apa saja perbedaannya? Langsung kita bahas di bawah 1. Struktur Kepemilikan PT Perorangan menonjolkan karakteristik kepemilikan tunggal. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan PT Reguler yang menganut sistem kepemilikan terbagi. Dalam PT Reguler, kepemilikan telah terdistribusi di antara beberapa individu melalui sistem saham sehingga tidak memungkinkan adanya kepemilikan tunggal 100%.  2. Modal Usaha  Pada PT Perorangan, modal usaha dibatasi dengan plafon modal maksimal 5 miliar rupiah, sesuai dengan kriteria usaha mikro dan kecil. Sebaliknya, PT Reguler tidak memiliki batasan modal maksimal, namun diwajibkan menyertakan minimal 25% dari modal dasar. PT Perorangan tidak terikat oleh ketentuan modal minimal tersebut. 3. Akta Pendirian  Untuk PT Perorangan, tidak memerlukan akta pendirian yang dilegalisasi notaris untuk pendiriannya. Sebagai alternatif, Kementerian Hukum dan HAM menerbitkan sertifikat pendaftaran dan pendirian secara digital melalui portal Administrasi Hukum Umum (AHU). Hal ini kontras dengan PT Reguler yang wajib memiliki akta pendirian yang telah disahkan notaris. 4, Tanggung Jawab Hukum Dalam PT Perorangan, pemilik memikul tanggung jawab pribadi atas seluruh kewajiban dan hutang perusahaan. Konsekuensinya, pemilik dapat dimintai pertanggungjawaban personal jika terjadi kerugian atau sengketa hukum. Berbeda halnya dengan PT Reguler yang menerapkan pemisahan tegas antara entitas bisnis dan pemilik. Pemegang saham PT Reguler terlindungi dari tanggung jawab pribadi atas kewajiban perusahaan, kecuali jika mereka secara eksplisit memberikan jaminan personal. Penutup Pemilihan antara PT Perorangan dan PT Reguler merupakan keputusan yang harus didasarkan pada visi dan skala operasional bisnis. PT Perorangan idealnya bisa digunakan bagi wirausaha yang menginginkan fleksibilitas dan efisiensi dalam pengelolaan usaha skala kecil. Di sisi lain, PT Reguler bisa menjadi pilihan tepat bagi Anda yang merencanakan ekspansi signifikan, serta siap mengimplementasikan tata kelola yang lebih kompleks. Dengan memahami secara mendalam definisi dan perbedaan dari kedua bentuk badan usaha di atas, Anda dapat mengambil keputusan yang tepat, strategis, dan selaras dengan pertumbuhan yang diproyeksikan untuk usaha.

Apa Itu Persekutuan Komanditer atau CV?

Apa Itu Persekutuan Komanditer atau CV?

Persekutuan komanditer atau CV adalah salah satu bentuk badan usaha yang telah dinaungi oleh hukum. Jenis badan usaha ini masih menjadi bentuk perusahaan yang diminati banyak pelaku usaha karena kemudahan dalam pembuatannya. Mari kita jelajahi lebih lanjut mengenai persekutuan komanditer atau CV! Pengertian Persekutuan Komanditer Persekutuan Komanditer atau CV merupakan bentuk badan usaha yang didirikan oleh minimal dua orang, di mana terdapat pembagian peran antara sekutu aktif (komplementer) dan sekutu pasif (komanditer).  Pada struktur ini, modal yang tersedia kana dipercayakan kepada sekutu aktif untuk menjalankan dan memimpin perusahaan Sementara itu, sekutu pasif akan berperan sebagai penanam modal pada badan usaha tersebut.  Tujuan pembentukan CV adalah untuk mencapai cita-cita bersama, dengan tingkat keterlibatan dari masing-masing anggotanya yang sesuai dengan peran sebagai sekutu aktif atau pasif. Apa Ciri-ciri Persekutuan Komanditer? Lalu, bagaimana sebuah perusahaan bisa dikatakan sebagai badan usaha berbentuk CV? Terdapat beberapa ciri-ciri badan usaha yang telah berbentuk persekutuan komanditer. Apa saja ciri-cirinya? Berikut penjelasannya: 1. Pendirian CV dibentuk oleh setidaknya dua individu, mencerminkan sifat kolaboratif dari struktur bisnis ini. 2. Struktur Kepemilikan CV memiliki dua jenis mitra, yaitu sekutu aktif (komplementer) yang mengelola operasi dan sekutu pasif (komanditer) yang menyediakan modal. 3. Sumber Modal Dana investasi berasal dari sekutu komanditer, memungkinkan mereka berpartisipasi tanpa terlibat langsung dalam operasi. 4. Manajemen Sekutu komplementer bertanggung jawab atas operasional harian, memberikan kejelasan dalam pengambilan keputusan. 5. Kewarganegaraan Pendiri Hanya warga negara Indonesia yang dapat mendirikan CV, menjaga kepemilikan lokal. 6. Pembatasan Kepemilikan Asing CV tidak dapat dimiliki oleh warga negara asing, melindungi kepentingan bisnis domestik. 7. Persyaratan Modal Tidak ada batasan modal minimum, meningkatkan aksesibilitas bagi pengusaha kecil. Kelebihan dan Kekurangan Setelah membahas mengenai pengertian dan ciri-ciri CV, kini kita beralih menuju apa saja kelebihan serta kekurangan dari CV. Badan usaha berbentuk CV memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan di dalamnya. Apa saja kelebihan dan kekurangannya? Langsung saja kita bahas di bawah. Kelebihan CV  1. Pendirian mudah dan cepat dibandingkan bentuk usaha lainnya seperti PT. 2. Akses modal lebih mudah, baik dari pihak eksternal maupun internal, berkat status hukum yang jelas. 3. Manajemen lebih terstruktur dibanding usaha tanpa badan hukum. 4. Memiliki kepastian hukum melalui akta notaris. 5. Tidak ada batasan modal minimum, cocok untuk pemula dan UMKM. 6. Risiko usaha ditanggung bersama oleh para sekutu. 7. Fleksibilitas dalam pengelolaan oleh individu berkompeten. 8. Pengambilan keputusan lebih efisien tanpa RUPS. 9. Sistem perpajakan sederhana dengan pajak tunggal pada tingkat perusahaan 10. Kebebasan dalam pemilihan nama perusahaan. Kekurangan CV 1. Potensi konflik internal antar sekutu. 2. Ketidakseimbangan tanggung jawab antara sekutu aktif dan pasif. 3. Keberhasilan usaha sangat bergantung pada kinerja sekutu aktif. 4. Keberhasilan usaha sangat bergantung pada kinerja sekutu aktif. 5. Penarikan modal sulit dilakukan, mengurangi fleksibilitas keuangan pribadi sekutu.

Cara Membuat Laporan SPT Tahunan dan Menghitung PPh Badan

Cara Membuat Laporan SPT Tahunan dan Menghitung PPh Badan

Laporan SPT tahunan merupakan kewajiban bagi para wajib pajak. Namun, dalam dunia perpajakan, dua istilah yang masih sering menimbulkan kebingungan adalah pencatatan dan pembukuan pajak.  Meskipun kedua istilah ini lebih umum dikenal pada ilmu akuntansi, namun keduanya memiliki peran penting dalam sistem perpajakan. Bagi wajib pajak, terutama para pengusaha, pembukuan dan pencatatan merupakan proses krusial yang tidak boleh diabaikan.  Kedua proses ini berfungsi sebagai landasan untuk menghitung pajak terutang.  Oleh karena itu, pemahaman yang tepat tentang perbedaan dan penerapan kedua istilah ini sangat penting untuk memastikan kepatuhan pajak yang akurat. Konsep Penting Laporan SPT Tahunan Menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2007, yang merupakan perubahan terbaru dari UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, terdapat dua konsep penting dalam pembuatan laporan SPT Tahunan: Kedua konsep ini memberikan kerangka bagi wajib pajak dalam melaporkan aktivitas keuangan mereka untuk tujuan perpajakan, memastikan transparansi, dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Perbedaan Pembukuan dan Pencatatan Cakupan: Output: Laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi. Kewajiban: Tarif PPh Badan: Cakupan: Penghasilan, termasuk yang bukan objek pajak atau dikenai pajak. Kewajiban: Catatan: Setelah masa berlaku berakhir, akan dikenakan tarif PPh Badan normal (Pasal 17). Cara Menghitung PPh Badan Bagi entitas bisnis, perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Badan merupakan aspek krusial dalam pelaporan pajak.  Proses ini memberikan estimasi pasti mengenai kewajiban pajak yang harus dipenuhi. Wajib Pajak (WP) Badan dengan peredaran bruto maksimal Rp50 miliar memperoleh insentif berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif PPh Badan standar.  Fasilitas ini berlaku untuk Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang berasal dari peredaran bruto hingga Rp4,8 miliar. Terdapat dua metode untuk menghitung PPh Badan dengan memanfaatkan pengurangan tarif ini, yaitu:  Untuk perusahaan dengan pengedaran bruto kurang dari Rp4,8 Miliar, pengurangan tarif dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: PPh Terutang = (50% X 25 % X PKP) Contohnya PT MAJU BERSAMA pada tahun pajak 2023 memiliki peredaran bruto sebesar Rp4,2 Miliar dan Penghasilan Kena Pajak (PKP) sebesar Rp600 Juta. Maka PPh terutangnya dapat dihitung sebagai berikut: PPh Terutang = (50% X 25% X PKP)  PPh Terutang = (50% X 25% X Rp600 Juta)  PPh Terutang = 0,5 X 0,25 X Rp600.000.000  PPh Terutang = Rp75.000.000 Jadi, PPh terutang PT MAJU BERSAMA untuk tahun pajak 2023 adalah Rp75 Juta. Untuk perusahaan peredaran bruto lebih dari Rp4.8 Miliar hingga kurang dari Rp50 Miliar, pengurangan tarif dapat dihitung dengan rumus berikut: PPh Terutang = [(50% X 25%) X PKP Terutang (Fasilitas)] + [25% X PKP Terhutang (Tidak Fasilitas)] Contohnya PT SEHAT ABADI pada tahun pajak 2023 memiliki peredaran bruto sebesar Rp40 miliar dan PKP sebesar Rp5 miliar. Perhitungan PPh terutangnya adalah sebagai berikut: (Rp4.800.000.000 : Rp40.000.000.000) x Rp5.000.000.000 = Rp600.000.000 Rp5.000.000.000 – Rp600.000.000 = Rp4.400.000.000 a. Fasilitas:  (50% x 25%) x Rp600.000.000 = Rp75.000.000  b. Tidak Fasilitas 25% x Rp4.400.000.000 = Rp1.100.000.000 Rp75.000.000 + Rp1.100.000.000 = Rp1.175.000.000 Jadi, PPh terutang PT SEHAT ABADI  untuk tahun pajak 2023 adalah Rp1.175.000.000.

Mari Mengenal dan Memahami Tarif Pajak Penghasilan Badan

Mari Mengenal dan Memahami Tarif Pajak Penghasilan Badan

Tarif Pajak Penghasilan Badan, yang awalnya diatur dalam UU Pajak Penghasilan, telah mengalami penyesuaian melalui UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).  Di Indonesia, kewajiban melaporkan penghasilan tahunan ini telah menjadi bagian integral dari lanskap bisnis sejak era reformasi.  Peraturan perpajakan, yang diatur ketat dalam undang-undang, mencakup tarif dan metode perhitungan yang spesifik. Mari kita bahas lebih lanjut mengenai Pajak Penghasilan di bawah ini! Apa Itu Tarif Pajak Penghasilan Badan? Sistem perpajakan di Indonesia menerapkan prinsip Worldwide Income dalam pengenaan pajak penghasilan.  Prinsip ini menyatakan bahwa seluruh peningkatan kemampuan ekonomis Wajib Pajak (WP), baik yang bersumber dari dalam negeri maupun luar negeri, diakumulasikan sebagai Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Pajak Penghasilan (PPh) Badan dibebankan atas Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang diperoleh Wajib Pajak Badan selama satu tahun pajak, tanpa adanya pengecualian. Pemerintah telah menetapkan diferensiasi tarif PPh berdasarkan skala usaha.  Sebagai contoh, Wajib Pajak Badan UMKM dengan omzet di bawah Rp4,8 miliar dan belum wajib melakukan pembukuan, diberikan opsi untuk memanfaatkan tarif PPh Final sebesar 0,5%. Penerapan PPh Final ini bersifat opsional sehingga memberikan keleluasaan bagi Wajib Pajak Badan UMKM untuk memilih antara tarif tersebut atau menggunakan tarif PPh normal. Tarif normal ini mengalami penyesuaian dari 25% menjadi 22% untuk tahun pajak 2020-2021, dan turun menjadi 20% mulai tahun 2022. Berapa Besaran Tarif PPh Badan? Tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan di Indonesia telah mengalami beberapa kali penyesuaian yang bertujuan untuk menciptakan iklim bisnis lebih kondusif. Berdasarkan data terbaru, evolusi tarif PPh Badan menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan.  Dimulai pada tahun 2009 dengan tarif sebesar 28%, kemudian turun menjadi 25% pada tahun 2010. Penurunan berlanjut pada tahun 2020 dan 2021, di mana tarif ditetapkan sebesar 22%. Namun, sejak tahun 2022, tarif PPh Badan di Indonesia sebenarnya masih tetap 22%, Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) yang disahkan pada Oktober 2021. Khusus untuk Wajib Pajak Badan berbentuk Perseroan Terbuka (Tbk), terdapat insentif berupa pengurangan tarif sebesar 3% dari tarif normal, dengan syarat memenuhi kriteria tertentu.  Pengenalan PPh 25 Dalam sistem perpajakan Indonesia, Pajak Penghasilan (PPh) memungkinkan pembayaran secara bertahap melalui mekanisme angsuran.  Ketentuan ini telah diatur dalam PPh Pasal 25 yang mewajibkan Wajib Pajak (WP) untuk membayar pajak penghasilan secara berkala sepanjang tahun fiskal berjalan. Tujuannya adalah untuk meringankan beban finansial WP dan memastikan kepatuhan tepat waktu dalam pembayaran pajak.  Batas waktu pembayaran PPh 25 paling lambat pada tanggal 15 bulan berikutnya setelah masa pajak yang bersangkutan.  Keterlambatan dalam pembayaran mengakibatkan pengenaan sanksi pajak dan dihitung per bulan, terhitung sejak tanggal jatuh tempo hingga tanggal pembayaran aktual dilakukan. Penting untuk dicatat bahwa perhitungan PPh 25 harus didukung oleh pembukuan yang akurat dan dapat diverifikasi kebenarannya.